Sementara itu, keadaan di atas dinding pertahanan bahkan lebih kacau. Musuh datang dengan membawa tameng es tebal yang mereka lekatkan di salah satu lengan mereka. Tameng es itu tebal tapi tembus pandang, sebuah pelindung yang sempurna. Musuh menyerang dengan melemparkan pecahan es yang tajam atau mengambil sebagian es dari tameng, mencairkannya dan menjadikannya seperti cambuk. Pasukan pertahanan Ainafar lari tunggang langgang menuju menara jaga besar. Pintu masuk menara dikunci rapat. Panah-panah ditembakkan meskipun sebenarnya sia-sia saja karena satu-satunya yang cukup kuat untuk menembus tameng es musuh hanya busur raksasa balista dengan tembakan tombaknya. Beberapa pasukan musuh yang maju cukup dekat dengan dinding menara juga berhasil dikalahkan dengan minyak panas. Tapi sayang, pasukan musuh yang datang lagi terlalu banyak dan mereka cukup pintar.
Bola-bola es tajam terlempar di udara, dan tepat mengarah ke menara jaga. Menara pun mulai retak, sementara pasukan Ainafar di dalam dan di atasnya tak mampu berbuat apa-apa. Tembakan dari beberapa ballista di menara itu tidak mampu mengimbangi jumlah musuh yang datang. Pasukan Ainafar akhirnya menggunakan pelempar batu, meski dengan resiko yang cukup besar, menghancurkan bangunan sendiri. Selain itu pelempar batu itu juga dirancang untuk melempar jarak jauh, tidak sedekat ini. Dan beberapa saat kemudian, sebuah bola es besar dilemparkan dan terjatuh di atap menara yang terbuka, tempat pelempar batu itu dipasang. Dengan cepat kabut putih yang tadi menyelimuti bola es menyebar dan membekukan apa pun yang disentuhnya. Dan dengan telah dibekukannya ballista dan pelempar batu, pasukan Ainafar tak lagi mampu melawan. Dan tak lama kemudian setelah, bagian menara hancur dan menjatuhi pintu menara dan merobohkannya. Pasukan Ainafar tak punya pilihan lain, maju menyerang atau diam lalu dibunuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar