Beberapa saat berlalu sudah. Alavor sudah menyelesaikan masalahnya dan berpamitan dengan Reydera. Tidak seperti Annefeira, Alavor menunggangi sendiri kudanya beserta rombongan pengawalnya yang berjumlah belasan pasukan kuda. Alavor dan rombongannya melewati jalan timur, sedangkan Annefeira melewati jalan di sebelah selatannya.
“Di depan ada persimpangan, jika kita melewati jalan yang selatan, kita akan melewati bukit dan Putri mungkin bisa melihat pemandangan indah. Bagaimana Putriku?” Tanya sang kusir pada Annefeira yang biasa memanggilnya paman.
“Baiklah Paman Dei, mungkin itu ide bagus.” Jawab Annefeira. Kusir tua yang bernama Deirel sebenarnya termasuk orang yang mengasuh Annefeira ketika ia mengungsi.
Karena persetujuan Annefeira, rombongannya kini menuju lebih ke selatan ke arah sebuah bukit. Bukit itu tidak besar dan tinggi, tapi cukup tinggi untuk melihat pemandangan hutan sekitar, bahkan kota Ainafar akan masih terlihat dari atas bukit. Jalan menuju bukit itu masih cukup panjang, tapi pepohonan serta ladang serba hijau di tempat itu membuat Annefeira merasa nyaman.
Annefeira dan Alavor kini tengah berada dalam perjalanan pulang mereka yang nyaman. Sedangkan Reydera, kini berada di sebuah taman kota di samping sungai kecil buatan bersama seorang penyihir pendampingnya. Tampaknya mereka berdua membahas sesuatu.
“Jadi, bagaimana menurutmu, apakah Putri Annefeira senang tinggal di sini?” Tanya Reydera.
“Aku merasakan kebahagiaan dan ketenteraman dalam hati Putri saat dia di sini. Sepertinya, rencana Tuan Muda berhasil.” Jawab penyihir itu.
“Ya, tentu saja. Seperti yang sudah kuduga. Reydera juga begitu bukan?”
“Putri Annefeira menyukai taman dan lingkungan serta tata kota, sedangkan Pangeran Reydera lebih tertarik pada benteng Tuan Muda.” Jawab sang penyihir menjelaskan.
“Ya, ya, aku sudah tahu, tadi mereka mengatakannya padaku.” Reydera menunjukkan senyum puas. Ia tampak gembira.
Sambil memandangi langit, ia berkata dalam hati, “Aku telah berhasil mengesankan Annefeira, dan juga Alavor. Ya, aku berhasil. Hmm, tapi satu masalah yang masih belum bisa kuselesaikan adalah bagaimana aku akan memisahkan Annefeira dari Alavor. Sudahlah, penyihirku pasti tahu.” Ia lalu berbalik pada penyihirnya.
Belum sempat Reydera berbicara, sang penyihir sudah berbicara. “Hubungan antara Putri Annefeira dan Pangeran Alavor sebagian besar adalah hubungan pertemanan. Anda masih punya kesempatan.”
“Dan bagaimana aku akan mendapatkan kesempatan itu?” Tanya Reydera lagi.
“Dengan membantu setiap permasalahannya tentu saja Tuanku. Dan perlihatkan bahwa anda sangat memperhatikan dirinya dan kerajaannya.”
“Ya, tentu saja. Aku harus buktikan bahwa aku memperhatikan dirinya. Lalu apa lagi?”
“Seharusnya, aku mengatakan ini di awal. Anda harus memahami dan mengenali Putri dulu, sebelum anda mencoba mendekatinya.”
“Mengenalinya, ya kau benar. Setahuku Putri Annefeira adalah putri yang cantik dan berbakat, lalu apa lagi? Hmm.”
Sementara Reydera berpikir, penyihir yang sebenarnya bernama Morzuya itu merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak biasa dan membuatnya khawatir. Ia merasakan sesuatu itu mendekat dari arah pantai di barat. Sesuatu yang dirasakannya itu datang dengan perlahan dan lembut seperti angin sepoi-sepoi. Tapi yang jelas, hal ini belum dirasakannya.
“Maaf, Tuan Muda. Aku merasakan sesuatu yang aneh mendekat kemari.” Kata Morzuya.
Reydera berbalik pada Morzuya. “Sesuatu yang aneh? Bisa kau ceritakan sedikit?”
“Eh, entahlah Tuan Muda, aku belum pernah merasakan hal ini. Tapi sepertinya, ia agak dingin.” Jawab Morzuya ragu-ragu.
Reydera melirik kesana kemari sambil berpikir. “Apa menurutmu hal ini bagus, dan Annefeira akan suka?”
“Aku punya firasat buruk tentang hal ini, Tuan Muda.”
“Oh, hmm, jadi kau ingin bilang kalau musim dingin datang lebih awal, begitu?”
“Aku tidak akan mengatakannya Tuanku, aku tidak punya pengetahuan apapun tentang hal ini.”
“Hmm.” Reydera lalu terdiam sebentar. “Apakah itu berbahaya?”
Morzuya terdiam beberapa saat. “Sangat mungkin.” Jawabnya kemudian.
“Berarti aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa, ya?” Reydera memalingkan wajahnya dan mencoba berpikir.
Hanya beberapa saat kemudian, dua orang prajurit terlihat berlari ke arah Reydera dan Morzuya. Mereka terlihat terburu-buru. Dan ketika mereka telah sampai di dekat Reydera atau lebih tepatnya di belakangnya, mereka segera membungkuk sedikit untuk memberikan penghormatan.
“Hormat kami pada Pangeran, ada sebuah berita penting yang perlu Pangeran dengarkan.” Kata salah seorang diantaranya.
Reydera langsung membalikkan badannya menghadap dua prajurit itu. “Ada berita apa? Jangan melaporkan adanya barang rusak lagi.”
“Sama sekali bukan seputar itu, Pangeran. Prajurit pengawas di gerbang barat mendapati adanya hal yang aneh di laut. Mereka bilang lautnya membeku. Dan meggunakan teropong, mereka bilang mereka melihat ada orang yang berjalan di atas es itu.” Kata sang prajurit dengan tegas dan posisi berdiri tegak.
“Jadi teropongnya memang berfungsi? Tidak sia-sia kuhabiskan cukup banyak uang untuk itu.”
“Sebenarnya Pangeran, bukan itu yang kami khawatirkan.” Kata sang prajurit lagi dengan posisi yang sama.
“Ya, lanjutkan!”
“Sepertinya, mereka menuju kemari, Pangeran.”
“Menuju ke sini, untuk apa?” Rupanya Reydera belum menyadari situasi ini.
“Itu mungkin apa yang ku rasakan, Tuan Muda. Dingin, dan mendekat.” Morzuya memberikan pendapatnya.
“Lalu apa yang harus ku lakukan?” Tanya Reydera pada penyihirnya.
“Mungkin aku tahu jika aku melihatnya dulu.”
“Baiklah, ayo ke atas.” Reydera mengajak Morzuya menuju bagian atap kastil yang juga terdapat teropong. Kastil itu cukup besar, dan butuh waktu cukup lama untuk berjalan dari dasar ke puncak.
Sementara itu, prajurit-prajurit penjaga gerbang semakin was-was. Mereka mempersiapkan senjata mereka seolah hendak berperang. Para pemanah sudah bersiap dengan busur dan panahnya. Peralatan ballista pun disiapkan. Beberapa kuali minyak panas juga dipanaskan. Bahkan batu-batu pun disiapkan ke pelemparnya. Semuanya bersiap dan tinggal menunggu perintah.
Sang jendral yang tengah berada di bagian timur sudah mendapat kabar. Ia pun naik ke menara di dekat gerbang timur dan ikut menyaksikan pemandangan aneh itu. Yang ia lihat hanya benda putih yang tenang di belakang laut yang biru. Sayangnya, dari tempatnya itu ia tidak melihat adanya pasukan yang berjalan di atas es di sana.
“Kalian sudah memberitahukan penyihir Morzuya? Ku yakin ia yang paling tahu tentang hal ini.” Tanya Jendral Liedra.
“Tentu saja Jendral, sudah ada yang memberitahukannya.” Jawab prajurit itu.
“Setelah aku selesaikan urusanku, aku akan ke sana.” Kata Jendral Liedra.
Keadaan semakin buruk, es itu semakin mendekat bahkan tanpa teropong pun sudah terlihat. Dan kini, Morzuya serta Reydera sudah sampai di atap kastil. Reydera langsung menggunakan teropongnya untuk melihat, lalu ia bergantian dengan Morzuya. Entah karena apa, tapi Morzuya sendiri terlihat tidak percaya akan hal ini.
“Memang benar, ada banyak pasukan di es itu. Tapi apa yang mereka lakukan?” Kata Morzuya dengan nada keheranan.
“Kau tidak berpikir mereka akan menyerang kita bukan?” Tanya Reydera khawatir.
“Aku punya firasat buruk tentang ini, Tuan Muda.” Jawab Morzuya.
“Perintahkan pada seluruh pasukan untuk bersiap, dan jangan sampai mereka menembus gerbang kita.” Perintah Reydera pada dua prajurit itu.
Kini es itu beserta pasukan di atasnya sudah mendekati dua bukit yang mengapit pantai barat Ainafar. Tapi anehnya, pasukan terbagi dua dan masing-masing berada di dekat bukit sehingga es yang berada tepat di depan pantai hanya tipis.
Sesuai dengan perintah Reydera, sebagian besar pasukan berkumpul di daerah gerbang barat, kecuali pasukan yang bertugas menjaga gerbang. Jendral Liedra beserta bebeapa prajurit lain juga bersiap-siap dengan kuda masing-masing. Sementara itu, pasukan di atas es itu juga tampak mempersiapkan sesuatu. Keadaan kini bertambah menegangkan. Sementara prajuit lain dalam perjalanan menuju tiga gerbang paling barat, tapi pasukan di gerbang barat benar-benar sudah siap.
Untuk beberapa saat, suasana dalam keadaan tenang, tapi menegangkan. Para prajurit terus waspada. Dan kemudian, sejumlah prajurit di es itu berjalan ke tengah di antara dua barisan pasukannya. Entah bagaimana caranya, tapi dengan tangan mereka, mereka mengangkat es itu dan menjadikannya seperti tameng. Setelah itu, es di tengah yang mulanya hanya tipis, kini bertambah tebal. Lalu hal paling buruk terjadi. Air laut secara perlahan surut. Entah bagaimana tapi permukaan air terlihat menjuahi pantai. Air laut terus surut dan surut hingga dasar perairan di teluk kecil itu terlihat.
“Apa yang akan mereka lakukan?” Tanya seorang prajurit.
“Sepertinya mereka ingin menyiram kita. Ini tidak bagus, sebaiknya penduduk diungsikan.” Jawab seorang Kapten. “Buka gerbang timur dan perintahkan penduduk untuk mengungsi, kecuali kita cukup waktu untuk bertanya pada Pangeran.”
Menanggapi perintah sang Kapten, dua orang prajurit berangkat.
Meskipun air laut telah surut cukup jauh, tapi tetap tidak berhenti. Bahkan permukaannya telah membentuk kemiringan yng luar biasa. Beberapa saat kemudian, permukaan air laut yang miring itu telah sampai di tengah-tengah pasukan di es. Es di sekitar bagian tengah yang masih tipis mulai retak. Es di bagian tengah yang sebelumnya telah ditebalkan mulai turun dengan beberapa pasukan di atasnya. Dan beberapa saat kemudian, bagian es itu terjatuh, dan bersamaan dengan itu air laut yang tadinya seperti ditarik ke belakang kini terlepas. Bagian es itu kemudian terdorong oleh air laut seperti papan seluncur yang terdorong ombak. Karena sebelumnya sudah surut cukup jauh, air laut bergerak kembali dengan cukup cepat. Dengan cepat teluk terisi air kembali dan air ini terus melaju kencang menuju dinding Ainafar. Prajurit di atas potongan es yang terdorong itu terlihat menyesuaikan arah gerakan potongan es itu dengan gerbang. Kini pasukan Ainafar tahu apa yang akan dilakukan mereka.
Terdengar suara deburan ombak yang sangat keras ketika gelombang air laut menabrak dinding Ainafar. Dan tidak lama kemudian, suara kayu pecah terdengar dan diikuti suara aliran air yang deras. Gerbang ganda Ainafar telah ditembus dalam satu kali luncuran.
Tembakan panah secara bertubi-tubi dilancarkan pada pasukan musuh yang berada di potongan besar es itu. Tapi tameng es buatan mereka cukup kuat menahan panah-panah kecil. Akan tetapi tameng es mereka tidak cukup tebal untuk menahan lontaran tombak dari ballista. Beberapa mati tertembak, sementara yang lain masih berlindung dan menunggu.
Bersamaan dengan hancurnya gerbang barat Ainafar, lapisan es menyebar dengan cepat, dan pasukan di atasnya tampak berlari. Sepertinya mereka memang ingin menyerang Ainafar. Dan beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba di potongan besar yang telah menghancurkan gerbang barat. Dengan serta merta pasukan yang tadi menunggu sambil bertahan keluar dan beraksi. Mereka bukan penyihir, tapi yang mereka lakukan sangat serupa. Dinding es kecil yang tadinya mereka gunakan untuk berlindung, mereka pecahkan dan mereka arahkan pecahannya ke arah pasukan Ainafar. Lalu dengan sedikit gerakan tangan, mereka mengangkat air laut yang masih menggenangi daerah luar Ainafar dan belum membeku hingga sampai di puncak dinding lalu membekukannya dan membuatnya berbentuk tangga. Beberapa pasukan yang lain menyemprotkan air ke atas dinding lalu membekukannya, menyebabkan puncak dinding menjadi licin.
Dan akhirnya, air laut di barat Ainafar membeku seluruhnya ketika pasukan es itu sampai di dinding. Mereka tidak membawa senjata apa pun, yang mereka lakukan adalah mengambil air dari es yang membeku, melempar serta membekukannya dalam bentuk es yang tajam. Serangan ini berhasil mengalahkan pasukan pemanah Ainafar sehingga mereka bisa naik ke dinding menggunakan tangga es yang telah dibuat. Ada juga beberapa pasukan di belakang yang dengan berpasangan membentuk sebuah bola es tajam yang cukup besar dengan kabut putih yang mengelilinginya dan melemparnya ke arah menara di dekat gerbang. Bagian menara yang tepat terkena langsung retak dan bagian yang terkena kabut putih yang menyebar langsung membeku. Dengan beberapa lemparan, menara pun runtuh.
Serangan aneh ini cukup membuat panik. Ditambah saat itu sebagian besar pasukan tambahan berada tepat di depan gerbang barat, sehingga kini mereka pun kacau balau terkena aliran deras air laut. Sebagian besar pasukan es menyebar melalui puncak dinding menuju gerbang-gerbang lainnya, sementara itu beberapa kelompok membuat papan es besar dan berseluncur dengannya menuju pusat kota. Seperti sebelumnya, mereka juga membuat tameng. Sambil berseluncur mereka menggunakan air yang mengalir di bawah mereka untuk menyerang prajurit yang mereka temui. Entah mereka kendalikan dan gunakan seperti cambuk, atau pun mereka jadikan piringan es tajam lalu mereka lemparkan. Keadaan di Ainafar benar-benar kacau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar