Sabtu, 15 Mei 2010

The Triggering (1.6)

Sementara itu, keadaan di atas dinding pertahanan bahkan lebih kacau. Musuh datang dengan membawa tameng es tebal yang mereka lekatkan di salah satu lengan mereka. Tameng es itu tebal tapi tembus pandang, sebuah pelindung yang sempurna. Musuh menyerang dengan melemparkan pecahan es yang tajam atau mengambil sebagian es dari tameng, mencairkannya dan menjadikannya seperti cambuk. Pasukan pertahanan Ainafar lari tunggang langgang menuju menara jaga besar. Pintu masuk menara dikunci rapat. Panah-panah ditembakkan meskipun sebenarnya sia-sia saja karena satu-satunya yang cukup kuat untuk menembus tameng es musuh hanya busur raksasa balista dengan tembakan tombaknya. Beberapa pasukan musuh yang maju cukup dekat dengan dinding menara juga berhasil dikalahkan dengan minyak panas. Tapi sayang, pasukan musuh yang datang lagi terlalu banyak dan mereka cukup pintar.
Bola-bola es tajam terlempar di udara, dan tepat mengarah ke menara jaga. Menara pun mulai retak, sementara pasukan Ainafar di dalam dan di atasnya tak mampu berbuat apa-apa. Tembakan dari beberapa ballista di menara itu tidak mampu mengimbangi jumlah musuh yang datang. Pasukan Ainafar akhirnya menggunakan pelempar batu, meski dengan resiko yang cukup besar, menghancurkan bangunan sendiri. Selain itu pelempar batu itu juga dirancang untuk melempar jarak jauh, tidak sedekat ini. Dan beberapa saat kemudian, sebuah bola es besar dilemparkan dan terjatuh di atap menara yang terbuka, tempat pelempar batu itu dipasang. Dengan cepat kabut putih yang tadi menyelimuti bola es menyebar dan membekukan apa pun yang disentuhnya. Dan dengan telah dibekukannya ballista dan pelempar batu, pasukan Ainafar tak lagi mampu melawan. Dan tak lama kemudian setelah, bagian menara hancur dan menjatuhi pintu menara dan merobohkannya. Pasukan Ainafar tak punya pilihan lain, maju menyerang atau diam lalu dibunuh.
read more “The Triggering (1.6)”

Kamis, 13 Mei 2010

The Triggering (1.5)

Di Ainafar bagian timur, Jendral Liedra sudah siap dengan kuda dan pasukannya ketika ia melihat air datang dan menerjang, diikuti dengan penduduk yang berlarian. Ia berjalan mendekat untuk melihat, dan memastikan bahwa itu benar-benar air. Beberapa prajurit lain juga mendekat dan berkumpul di dekat Jendral.
“Berita baru saja tersiar bahwa pasukan aneh itu bisa mengendalikan air dan es, dan ini adalah ulah mereka juga.” Kata seorang prajurit pada Jendral.
“Ini? Ulah mereka? Memangnya siapa mereka ini?” Jendral terlihat tak percaya.
“Hal yang lebih penting lagi Jendral, mereka datang.” Kata prajurit lainnya sambil menunjuk benda putih di kejauhan.
“Apakah benda itu es?” Tanya prajurit lainnya.
“Kurasa ya, sekarang semuanya bersiap dan bentuk barisan. Hunuskan pedang, dan panah, kita akan segera bertempur.” Jendral Liedra kemudian mencabut pedangnya yang pangkalnya terbuat dari emas, lalu mengangkatnya. “Dengan pedang ini kita berperang, pedang yang akan menjadi saksi perjuangan kita, dan sampai ia patah, kita takkan berhenti.” Setelah beberapa detik, Jendral mengarahkan pedangnya ke depan. “Serang!”
Jendral Liedra dengan diikuti puluhan pasukan kuda lainnya melangkah maju. Kini air sudah mulai surut, air mulai mengalir kembali ke laut. Jalan antara gerbang timur dan kastil di pusat kota adalah jalan yang lurus, sehingga pasukan musuh di kejauhan dapat terlihat. Kini mereka berhadap-hadapan, Jendral Liedra dan prajurit berkudanya dengan pasukan musuh di atas papan es. Meskipun jaraknya masih cukup jauh, tapi karena kedalaman air yang mulai menurun, pasukan musuh melompat dari papan es buatan mereka dan mulai berlari. Itu pun setelah mereka memecahkan dan mengarahkan serpihan tameng es pada Jendral Liedra dan pasukannya. Pecahan es yang sengaja dibuat tajam itu mengenai seluruh kuda dan menjatuhkannya, termasuk kuda Jendral yang terkena di bagian kaki. Genangan air yang masih setinggi betis sedikit meredam benturan dengan jalan kota. Jendral Liedra segera berdiri kembali. Melihat bahwa semua kuda tersayat, dan pasukan musuh kini hanya berlari, Jendral memutuskan bahwa ia juga akan berlari.
“Lupakan kudanya, jika kita tak bisa berlari dengan kuda kita, kita akan berlari dengan kaki kita sendiri!” Jendral meneriakkan kata-kata tersebut untuk membakar semangat pasukannya. Dan setelah itu, ia segera berlari menuju musuh, dan kemudian diikuti pasukannya. Di depannya, ia melihat musuhnya sebagian besar membawa pedang yang sebenarnya mereka dapatkan dari prajurit Ainafar yang sudah mereka bunuh. Beberapa yang belum mendapatkan senjata apa pun, mengambil air laut dan membekukannya dalam bentuk tombak atau pedang. Cukup jauh di belakang barisan musuh yang berlari, ia melihat ada satu musuh yang hanya berjalan dengan santai sambil membawa sebuah pedang yang belatinya dilapisi es agak tebal. Jendral segera yakin bahwa ia pasti pemimpin atau memiliki jabatan lebih tinggi. Tapi ia sadar, sebelum menghadapinya ia harus menembus barisan pasukan musuh di depannya.
Barisan pasukan pimpinan Jendral Liedra dan barisan pasukan es musuh seperti dua garis dengan satu titik yang terletak lebih maju yang saling mendekat. Titik itu adalah Jendral Liedra. Ia maju dengan langkah yang mantap dan pasti sementara pasukannya mengikuti di belakangnya. Teriakan semangat perjuangan menggema di jalanan luas yang sedikit tergenang itu. Semuanya memperlihatkan kobaran semangat yang luar biasa, termasuk Jendral Liedra yang berlari sendirian di depan barisan pasukannya.
Akhirnya waktu pertempuran telah tiba. Jendral Liedra sudah tiba di depan hidung musuh dan disambut dengan sebuah ayunan dari atas. Jendral Liedra segera menepis serangan itu dengan ayunan dari kanan bawahnya. Ketika pedang musuh hampir terlempar karena kuatnya ayunan Liedra, ia segera menyayat tubuh musuhnya dan menjatuhkannya. Musuh kedua datang dengan ayunan mendatar. Liedra dengan lincah menahan serangan tersebut. Setelah satu dua kali menahan lagi serangan musuh, Liedra memperoleh kesempatan untuk menusuk musuhnya yang satu ini. Musuh ketiga datang dengan ayunan dari kanan atas. Dengan mudah Liedra menangkisnya. Dan setelah berhasil menahan sebuah serangan mendatar, Liedra berhasil berputar sambil mengayunkan pedangnya dan menjatuhkan musuh ketiganya. Kini tidak ada lagi musuh yang menghadapi Jendral Liedra, pasukan musuh kini sudah dilawan pasukannya. Dan sekarang tinggallah Jendral Liedra berhadapan dengan seorang prajurit es yang memakai pakaian berbeda. Liedra berjalan mendekat sementara manusia pengendali air dan es ini hanya berdiri dan memperhatikannya sambil tersenyum meremehkan.
Setelah jaraknya sudah cukup dekat, Liedra berbicara padanya. “Jadi kau yang memimpin penyerangan ini?”
Prajurit es itu tertawa, dan menjawab. “Aku hanya kapten yang menerima perintah.”
Liedra terdiam sebentar. “Siapapun kau, dan siapun yang memberimu perintah, akan ku pastikan kau menerima kematianmu saat ini juga.”
“Kita lihat saja.” Balas sang kapten sambil mengangkat pedang berlapis es miliknya.
Pertarungan kedua bagi Liedra dimulai, ia berlari ke depan sambil mengayunkan pedangnya ke arah kapten musuh itu dengan kuat. Sang kapten pun, setelah melihat bahwa Liedra tidak dapat diremehkan, juga mengayunkan pedangnya dengan kuat. Ketika menahan serangan kapten musuh, Liedra agak terkejut dengan kekuatannya. Sebenarnya hal itu justru membuat semangatnya lebih membara. Tapi permainan pedang kapten itu ternyata memang luar biasa, seolah ia sudah biasa memegang pedang. Liedra pun kesulitan menemukan kesempatan untuk menyerang. Ia kemudian dipersulit lagi dengan terlemparnya pecahan lapisan es dari pedang sang kapten musuh yang sering mengenai mukanya. Dan Liedra juga tidak pernah bertarung di tempat yang tergenang air.
read more “The Triggering (1.5)”

The Triggering (1.4)

Rombongan Annefeira kini telah sampai di bukit cukup tinggi yang Deirel maksudkan. Agar dapat menikmati pemandangan, Annefeira turun dari kereta kudanya dan melihat sekitar. Di selatan ia bisa melihat laut yang biru dan indah, di timur ia melihat pemandangan hijau pepohonan, dan di utara ia bisa melihat di kejauhan adanya rombongan berkuda yang ia yakin itu pasti Alavor. Annefeira memejamkan mata sambil menghirup udara sekitar yang segar, lalu ia hembuskan diiringi dengan senyum bahagia. Tapi saat ia melihat ke arah barat, ke arah Ainafar, senyumnya menghilang. Ia terlihat bingung.
“Apa itu? Mengapa Ainafar terlihat biru?” Tanya Annefeira.
“Aku tidak bisa melihat jelas dengan mata tuaku. Tuan prajurit bisa kau jelaskan apa yang terjadi di sana!” Jawab Deirel.
“Ehm, ini mungkin sulit dipercaya, tapi eh, menurut penglihatanku kota Ainafar sedang terbanjiri air laut.” Jawab seorang prajurit.
“Bagaimana itu bisa terjadi? Dan benda apa yang berwarna putih itu?” Tanya Annefeira pada prajuritnya.
“Aku tidak tahu apa-apa mengenai itu, Putri.” Jawab prajuritnya.
“Sepertinya mereka membutuhkan pertolongan.” Kata Annefeira lagi.
“Jika memang Ainafar terbanjiri, kurasa mereka memang membutuhkan sedikit bantuan.” Kata Deirel.
“Kita harus ke sana, dengan cepat.” Kata Annefeira kemudian.
“Tapi Putri, kereta ini tidak dibuat untuk kecepatan tinggi, lagipula kondisi jalannya juga tidak memungkinkan.” Kata Deirel lagi.
“Aku akan ambil kudanya saja, Paman.” Kata Annefeira pada Deirel. “Salah satu dari kalian menuggu di sini menemani Paman Dei, yang lainnya ikut aku ke Ainafar.” Kata Annefeira kemudian pada prajuritnya.
Setelah Annefeira melepas salah satu kuda dari keretanya, dan seorang prajurit yang tinggal telah ditentukan, ia segera menungganginya dan mengucap kata terakhir pada Deirel. “Kau benar, Paman, pemandangan di sini indah, kuyakin kau tidak akan bosan. Aku berangkat.”
Deirel melambaikan tangannya, dan bersama seorang prajurit ia menyaksikan Annefeira berangkat. Ketika Annefeira sudah jauh, tampaknya Deirel bingung hendak melakukan apa. Pemandangannya memang indah dari tempat itu, tapi ia merasa tidak nyaman dengan seorang prajurit di dekatnya yang hanya diam. Ia pun mencoba membuka pembicaraan.
“Pemandangannya indah, ya.”

“Apakah itu kereta Putri Annefeira yang di sana?” Tanya seorang prajurit sambil menunjuk ke sebuah bukit di selatan pada Alavor.
“Ya, kurasa.” Jawab Alavor.
“Lalu mengapa mereka, keretanya berhenti dan beberapa pengendara kuda sepertinya berjalan kembali ke Ainafar?”
“Benarkah?” Alavor menghentikan kudanya dan mencoba melihat jauh ke selatan. Prajuritnya yang lain juga langsung menghentikan kuda mereka.
“Benar Pangeran, tapi sepertinya hanya ada dua orang di kereta itu, dan sepertinya itu bukan Putri.” Jelas seorang prajurit lainnya.
“Berarti Putri bersama pengendara kuda yang kalian katakan tadi. Lalu mengapa mereka ke Ainafar?” Alavor masih bingung.
“Mungkin ia meninggalkan sesuatu.” Jawab seorang prajurit.
“Tidak, jika hanya barang tertinggal ia tak akan sampai meninggalkan keretanya. Kupikir sesuatu sedang terjadi di Ainafar.” Kata Alavor.
“Tidak ada api, tidak ada asap. Setidaknya tidak lebih buruk dari dua hal itu.”
“Mungkin kita juga harus kembali.” Kata Alavor pada prajuritnya.
“Kami akan mengikuti kemana pun anda pergi, Pangeran.” Jawab prajuritnya.
“Kalau begitu, Ayo!”
read more “The Triggering (1.4)”

The Triggering (1.3)

Beberapa saat berlalu sudah. Alavor sudah menyelesaikan masalahnya dan berpamitan dengan Reydera. Tidak seperti Annefeira, Alavor menunggangi sendiri kudanya beserta rombongan pengawalnya yang berjumlah belasan pasukan kuda. Alavor dan rombongannya melewati jalan timur, sedangkan Annefeira melewati jalan di sebelah selatannya.
“Di depan ada persimpangan, jika kita melewati jalan yang selatan, kita akan melewati bukit dan Putri mungkin bisa melihat pemandangan indah. Bagaimana Putriku?” Tanya sang kusir pada Annefeira yang biasa memanggilnya paman.
“Baiklah Paman Dei, mungkin itu ide bagus.” Jawab Annefeira. Kusir tua yang bernama Deirel sebenarnya termasuk orang yang mengasuh Annefeira ketika ia mengungsi.
Karena persetujuan Annefeira, rombongannya kini menuju lebih ke selatan ke arah sebuah bukit. Bukit itu tidak besar dan tinggi, tapi cukup tinggi untuk melihat pemandangan hutan sekitar, bahkan kota Ainafar akan masih terlihat dari atas bukit. Jalan menuju bukit itu masih cukup panjang, tapi pepohonan serta ladang serba hijau di tempat itu membuat Annefeira merasa nyaman.
Annefeira dan Alavor kini tengah berada dalam perjalanan pulang mereka yang nyaman. Sedangkan Reydera, kini berada di sebuah taman kota di samping sungai kecil buatan bersama seorang penyihir pendampingnya. Tampaknya mereka berdua membahas sesuatu.
“Jadi, bagaimana menurutmu, apakah Putri Annefeira senang tinggal di sini?” Tanya Reydera.
“Aku merasakan kebahagiaan dan ketenteraman dalam hati Putri saat dia di sini. Sepertinya, rencana Tuan Muda berhasil.” Jawab penyihir itu.
“Ya, tentu saja. Seperti yang sudah kuduga. Reydera juga begitu bukan?”
“Putri Annefeira menyukai taman dan lingkungan serta tata kota, sedangkan Pangeran Reydera lebih tertarik pada benteng Tuan Muda.” Jawab sang penyihir menjelaskan.
“Ya, ya, aku sudah tahu, tadi mereka mengatakannya padaku.” Reydera menunjukkan senyum puas. Ia tampak gembira.
Sambil memandangi langit, ia berkata dalam hati, “Aku telah berhasil mengesankan Annefeira, dan juga Alavor. Ya, aku berhasil. Hmm, tapi satu masalah yang masih belum bisa kuselesaikan adalah bagaimana aku akan memisahkan Annefeira dari Alavor. Sudahlah, penyihirku pasti tahu.” Ia lalu berbalik pada penyihirnya.
Belum sempat Reydera berbicara, sang penyihir sudah berbicara. “Hubungan antara Putri Annefeira dan Pangeran Alavor sebagian besar adalah hubungan pertemanan. Anda masih punya kesempatan.”
“Dan bagaimana aku akan mendapatkan kesempatan itu?” Tanya Reydera lagi.
“Dengan membantu setiap permasalahannya tentu saja Tuanku. Dan perlihatkan bahwa anda sangat memperhatikan dirinya dan kerajaannya.”
“Ya, tentu saja. Aku harus buktikan bahwa aku memperhatikan dirinya. Lalu apa lagi?”
“Seharusnya, aku mengatakan ini di awal. Anda harus memahami dan mengenali Putri dulu, sebelum anda mencoba mendekatinya.”
“Mengenalinya, ya kau benar. Setahuku Putri Annefeira adalah putri yang cantik dan berbakat, lalu apa lagi? Hmm.”
Sementara Reydera berpikir, penyihir yang sebenarnya bernama Morzuya itu merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak biasa dan membuatnya khawatir. Ia merasakan sesuatu itu mendekat dari arah pantai di barat. Sesuatu yang dirasakannya itu datang dengan perlahan dan lembut seperti angin sepoi-sepoi. Tapi yang jelas, hal ini belum dirasakannya.
“Maaf, Tuan Muda. Aku merasakan sesuatu yang aneh mendekat kemari.” Kata Morzuya.
Reydera berbalik pada Morzuya. “Sesuatu yang aneh? Bisa kau ceritakan sedikit?”
“Eh, entahlah Tuan Muda, aku belum pernah merasakan hal ini. Tapi sepertinya, ia agak dingin.” Jawab Morzuya ragu-ragu.
Reydera melirik kesana kemari sambil berpikir. “Apa menurutmu hal ini bagus, dan Annefeira akan suka?”
“Aku punya firasat buruk tentang hal ini, Tuan Muda.”
“Oh, hmm, jadi kau ingin bilang kalau musim dingin datang lebih awal, begitu?”
“Aku tidak akan mengatakannya Tuanku, aku tidak punya pengetahuan apapun tentang hal ini.”
“Hmm.” Reydera lalu terdiam sebentar. “Apakah itu berbahaya?”
Morzuya terdiam beberapa saat. “Sangat mungkin.” Jawabnya kemudian.
“Berarti aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa, ya?” Reydera memalingkan wajahnya dan mencoba berpikir.
Hanya beberapa saat kemudian, dua orang prajurit terlihat berlari ke arah Reydera dan Morzuya. Mereka terlihat terburu-buru. Dan ketika mereka telah sampai di dekat Reydera atau lebih tepatnya di belakangnya, mereka segera membungkuk sedikit untuk memberikan penghormatan.
“Hormat kami pada Pangeran, ada sebuah berita penting yang perlu Pangeran dengarkan.” Kata salah seorang diantaranya.
Reydera langsung membalikkan badannya menghadap dua prajurit itu. “Ada berita apa? Jangan melaporkan adanya barang rusak lagi.”
“Sama sekali bukan seputar itu, Pangeran. Prajurit pengawas di gerbang barat mendapati adanya hal yang aneh di laut. Mereka bilang lautnya membeku. Dan meggunakan teropong, mereka bilang mereka melihat ada orang yang berjalan di atas es itu.” Kata sang prajurit dengan tegas dan posisi berdiri tegak.
“Jadi teropongnya memang berfungsi? Tidak sia-sia kuhabiskan cukup banyak uang untuk itu.”
“Sebenarnya Pangeran, bukan itu yang kami khawatirkan.” Kata sang prajurit lagi dengan posisi yang sama.
“Ya, lanjutkan!”
“Sepertinya, mereka menuju kemari, Pangeran.”
“Menuju ke sini, untuk apa?” Rupanya Reydera belum menyadari situasi ini.
“Itu mungkin apa yang ku rasakan, Tuan Muda. Dingin, dan mendekat.” Morzuya memberikan pendapatnya.
“Lalu apa yang harus ku lakukan?” Tanya Reydera pada penyihirnya.
“Mungkin aku tahu jika aku melihatnya dulu.”
“Baiklah, ayo ke atas.” Reydera mengajak Morzuya menuju bagian atap kastil yang juga terdapat teropong. Kastil itu cukup besar, dan butuh waktu cukup lama untuk berjalan dari dasar ke puncak.
Sementara itu, prajurit-prajurit penjaga gerbang semakin was-was. Mereka mempersiapkan senjata mereka seolah hendak berperang. Para pemanah sudah bersiap dengan busur dan panahnya. Peralatan ballista pun disiapkan. Beberapa kuali minyak panas juga dipanaskan. Bahkan batu-batu pun disiapkan ke pelemparnya. Semuanya bersiap dan tinggal menunggu perintah.
Sang jendral yang tengah berada di bagian timur sudah mendapat kabar. Ia pun naik ke menara di dekat gerbang timur dan ikut menyaksikan pemandangan aneh itu. Yang ia lihat hanya benda putih yang tenang di belakang laut yang biru. Sayangnya, dari tempatnya itu ia tidak melihat adanya pasukan yang berjalan di atas es di sana.
“Kalian sudah memberitahukan penyihir Morzuya? Ku yakin ia yang paling tahu tentang hal ini.” Tanya Jendral Liedra.
“Tentu saja Jendral, sudah ada yang memberitahukannya.” Jawab prajurit itu.
“Setelah aku selesaikan urusanku, aku akan ke sana.” Kata Jendral Liedra.
Keadaan semakin buruk, es itu semakin mendekat bahkan tanpa teropong pun sudah terlihat. Dan kini, Morzuya serta Reydera sudah sampai di atap kastil. Reydera langsung menggunakan teropongnya untuk melihat, lalu ia bergantian dengan Morzuya. Entah karena apa, tapi Morzuya sendiri terlihat tidak percaya akan hal ini.
“Memang benar, ada banyak pasukan di es itu. Tapi apa yang mereka lakukan?” Kata Morzuya dengan nada keheranan.
“Kau tidak berpikir mereka akan menyerang kita bukan?” Tanya Reydera khawatir.
“Aku punya firasat buruk tentang ini, Tuan Muda.” Jawab Morzuya.
“Perintahkan pada seluruh pasukan untuk bersiap, dan jangan sampai mereka menembus gerbang kita.” Perintah Reydera pada dua prajurit itu.
Kini es itu beserta pasukan di atasnya sudah mendekati dua bukit yang mengapit pantai barat Ainafar. Tapi anehnya, pasukan terbagi dua dan masing-masing berada di dekat bukit sehingga es yang berada tepat di depan pantai hanya tipis.
Sesuai dengan perintah Reydera, sebagian besar pasukan berkumpul di daerah gerbang barat, kecuali pasukan yang bertugas menjaga gerbang. Jendral Liedra beserta bebeapa prajurit lain juga bersiap-siap dengan kuda masing-masing. Sementara itu, pasukan di atas es itu juga tampak mempersiapkan sesuatu. Keadaan kini bertambah menegangkan. Sementara prajuit lain dalam perjalanan menuju tiga gerbang paling barat, tapi pasukan di  gerbang barat benar-benar sudah siap.
Untuk beberapa saat, suasana dalam keadaan tenang, tapi menegangkan. Para prajurit terus waspada. Dan kemudian, sejumlah prajurit di es itu berjalan ke tengah di antara dua barisan pasukannya. Entah bagaimana caranya, tapi dengan tangan mereka, mereka mengangkat es itu dan menjadikannya seperti tameng. Setelah itu, es di tengah yang mulanya hanya tipis, kini bertambah tebal. Lalu hal paling buruk terjadi. Air laut secara perlahan surut. Entah bagaimana tapi permukaan air terlihat menjuahi pantai. Air laut terus surut dan surut hingga dasar perairan di teluk kecil itu terlihat.
“Apa yang akan mereka lakukan?” Tanya seorang prajurit.
“Sepertinya mereka ingin menyiram kita. Ini tidak bagus, sebaiknya penduduk diungsikan.” Jawab seorang Kapten. “Buka gerbang timur dan perintahkan penduduk untuk mengungsi, kecuali kita cukup waktu untuk bertanya pada Pangeran.”
Menanggapi perintah sang Kapten, dua orang prajurit berangkat.
Meskipun air laut telah surut cukup jauh, tapi tetap tidak berhenti. Bahkan permukaannya telah membentuk kemiringan yng luar biasa. Beberapa saat kemudian, permukaan air laut yang miring itu telah sampai di tengah-tengah pasukan di es. Es di sekitar bagian tengah yang masih tipis mulai retak. Es di bagian tengah yang sebelumnya telah ditebalkan mulai turun dengan beberapa pasukan di atasnya. Dan beberapa saat kemudian, bagian es itu terjatuh, dan bersamaan dengan itu air laut yang tadinya seperti ditarik ke belakang kini terlepas. Bagian es itu kemudian terdorong oleh air laut seperti papan seluncur yang terdorong ombak. Karena sebelumnya sudah surut cukup jauh, air laut bergerak kembali dengan cukup cepat. Dengan cepat teluk terisi air kembali dan air ini terus melaju kencang menuju dinding Ainafar. Prajurit di atas potongan es yang terdorong itu terlihat menyesuaikan arah gerakan potongan es itu dengan gerbang. Kini pasukan Ainafar tahu apa yang akan dilakukan mereka.
Terdengar suara deburan ombak yang sangat keras ketika gelombang air laut menabrak dinding Ainafar. Dan tidak lama kemudian, suara kayu pecah terdengar dan diikuti suara aliran air yang deras. Gerbang ganda Ainafar telah ditembus dalam satu kali luncuran.
Tembakan panah secara bertubi-tubi dilancarkan pada pasukan musuh yang berada di potongan besar es itu. Tapi tameng es buatan mereka cukup kuat menahan panah-panah kecil. Akan tetapi tameng es mereka tidak cukup tebal untuk menahan lontaran tombak dari ballista. Beberapa mati tertembak, sementara yang lain masih berlindung dan menunggu.
Bersamaan dengan hancurnya gerbang barat Ainafar, lapisan es menyebar dengan cepat, dan pasukan di atasnya tampak berlari. Sepertinya mereka memang ingin menyerang Ainafar. Dan beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba di potongan besar yang telah menghancurkan gerbang barat. Dengan serta merta pasukan yang tadi menunggu sambil bertahan keluar dan beraksi. Mereka bukan penyihir, tapi yang mereka lakukan sangat serupa. Dinding es kecil yang tadinya mereka gunakan untuk berlindung, mereka pecahkan dan mereka arahkan pecahannya ke arah pasukan Ainafar. Lalu dengan sedikit gerakan tangan, mereka mengangkat air laut yang masih menggenangi daerah luar Ainafar dan belum membeku hingga sampai di puncak dinding lalu membekukannya dan membuatnya berbentuk tangga. Beberapa pasukan yang lain menyemprotkan air ke atas dinding lalu membekukannya, menyebabkan puncak dinding menjadi licin.
Dan akhirnya, air laut di barat Ainafar membeku seluruhnya ketika pasukan es itu sampai di dinding. Mereka tidak membawa senjata apa pun, yang mereka lakukan adalah mengambil air dari es yang membeku, melempar serta membekukannya dalam bentuk es yang tajam. Serangan ini berhasil mengalahkan pasukan pemanah Ainafar sehingga mereka bisa naik ke dinding menggunakan tangga es yang telah dibuat. Ada juga beberapa pasukan di belakang yang dengan berpasangan membentuk sebuah bola es tajam yang cukup besar dengan kabut putih yang mengelilinginya dan melemparnya ke arah menara di dekat gerbang. Bagian menara yang tepat terkena langsung retak dan bagian yang terkena kabut putih yang menyebar langsung membeku. Dengan beberapa lemparan, menara pun runtuh.
Serangan aneh ini cukup membuat panik. Ditambah saat itu sebagian besar pasukan tambahan berada tepat di depan gerbang barat, sehingga kini mereka pun kacau balau terkena aliran deras air laut. Sebagian besar pasukan es menyebar melalui puncak dinding menuju gerbang-gerbang lainnya, sementara itu beberapa kelompok membuat papan es besar dan berseluncur dengannya menuju pusat kota. Seperti sebelumnya, mereka juga membuat tameng. Sambil berseluncur mereka menggunakan air yang mengalir di bawah mereka untuk menyerang prajurit yang mereka temui. Entah mereka kendalikan dan gunakan seperti cambuk, atau pun mereka jadikan piringan es tajam lalu mereka lemparkan. Keadaan di Ainafar benar-benar kacau.
read more “The Triggering (1.3)”

The Triggering (1.2)

Pagi itu, di Ainafar, Annefeira dan Alavor bersiap untuk meninggalkan kota Ainafar menuju kota masing-masing. Begitu juga dengan sebagian besar tamu yang Reydera undang ke kota itu. Sebagian dari mereka yang kaya raya memilih untuk membeli rumah di kota ini. Tapi tentu saja, Reydera masih menyimpan sesuatu untuk diberikan pada dua tamu istimewanya itu. Saat itu, Annefeira sudah siap dengan kereta kuda dan pengawalnya di gerbang, ia hanya tinggal mengucapkan kata perpisahan. Akhirnya Reydera datang dengan seorang prajuritnya. Prajurit pengawalnya itu membawa sesuatu yang ditutupi kain.
“Ehm, Putri, sebelum kau pergi, aku ingin kau menyimpan ini!” Pengawal Reydera mengeluarkan sebuah pedang dengan pangkal emas berukir dan sebuah intan di tengahnya. Sarung pedang itu juga dihiasi dengan emas. Pedang itu lalu diberikan pada Reydera, yang kemudian menyerahkannya pada Annefeira. Tapi mengetahui bahwa pedang itu pasti pedang berharga, Annefeira agak sungkan.
“Kau yakin aku boleh menyimpan ini?” Tanya Annefeira.
“Tentu, aku akan sangat senang kalau kau mau menerimanya.” Jawab Reydera.
“Baiklah, terima kasih. Dan, terima kasih juga sudah mengundangku ke tempat ini. Walaupun agak dingin, tapi aku suka pemandangannya di sekitar sini.” Kata Annefeira dengan senyuman.
Mendengar hal itu, jantung Reydera berdebar-debar. Ia merasa sudah berhasil membuat sang Putri terkesan. Ia merasa sangat bangga saat itu. Tidak ada yang lebih membuatnya bahagia selain Annefeira yang tersenyum karena dirinya. Reydera membayangkan, jika Annefeira sangat menyukai tempat ini, kira-kira apa yang akan terjadi jika kota ini benar-benar ia berikan pada Annefeira. Ia pun mulai berprasangka agak berlebihan. Dan karena rasa sukanya itu, ia hampir saja benar-benar melakukannya. Meskipun mungkin nanti Annefeira akan sungkan menerimanya, Reydera sangat yakin bahwa sebenarnya Annefeira sangat menyukai tempat ini. Ia baru saja menyusun kata-kata saat itu, ketika Alavor datang.
“Di sini kau rupanya Reydera, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas undangannya.” Alavor datang dan menyalami Reydera. Alavor juga sempat memandang Annefeira sebentar, yang saat itu juga memandang dan tersenyum padanya.
“Oh, ya ya, tentu saja, sama-sama.”
“Tempat ini cukup indah, aku yakin Putri pasti sangat menikmati saat-saat di sini.” Kata Alavor lagi.
Annefeira hanya tersenyum.
“Dan, sebelum aku pergi, juga setelah kau selesai bicara dengan Annefeira, bisakah kau tunjukkan perancang kota ini. Aku tertarik dengan rancangan bentengmu.”
“Oh, tentu.”
Saat itu, Annefeira merasa dipanggil dari belakang. Dan ketika ia menoleh, ternyata yang memanggilnya adalah para pengawalnya. Sang kusir kereta kudanya memberi isyarat bahwa kereta sudah siap dengan menunduk dan seolah sedang mempersilahkan Putri Annefeira naik ke kereta. Ketika melihatnya, Annefeira tersenyum, dan mengangguk.
“Eh, maaf teman-teman, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa.” Annefeira melambaikan tangan dan langsung menuju keretanya.
Reydera yang saat itu masih ingin mengatakan sesuatu pada Annefeira, hanya bisa terbata-bata melihat Annefeira berjalan menjauhinya. Tapi akhirnya, ia pun merelakan Annefeira pergi, dan melihatnya menaiki keretanya dengan anggun dan berpegangan pada tangan kusir tua kepercayaannya. Saat Annefeira sudah masuk dan tak terlihat lagi, Alavor menepuk bahunya. Reydera menoleh.
“Dia cantik, bukan?”
Reydera agak bingung. “Eh ya, tentu saja.”
“Ya, jika aku tanya semua orang mereka pasti juga setuju dengan kecantikannya.”
Reydera masih terlihat bingung. “Sebenarnya apa maksudmu?”
“Maksudku?” Tanya Alavor.
“Apakah kau bermaksud mengatakan bahwa semua orang menyukainya?”
“Sebenarnya bukan itu yang kumaksud, tapi ya, menurutku semua orang menyukainya.”
“Lalu apa yang ingin kau katakan sebenarnya?”
“Baiklah, langsung saja, dia adalah gadis yang berbeda. Dia memang terlihat cantik, tapi ternyata dia juga seorang ksatria. Rakyatnya pasti bangga memilikinya.” Alavor tadinya melihat ke arah gerbang, ia lalu menoleh pada Reydera.
“Ya, rakyatnya pasti bangga. Tapi tunggu ...” Awalnya Reydera setuju dengan Alavor, tapi kemudian sebuah prasangka buruk datang. Ia bergumam, “jangan-jangan ia sedang menyindirku, karena aku adalah pangeran tampan tapi aku sama sekali bukan ksatria”.
“Tapi tunggu apa?” Tanya Alavor.
“Eh, lupakan saja. Oh ya, tadi kau bilang kau ingin bertemu dengan perancang tempat ini bukan? Akan kuantar. Kuberi tahu kau, dia sangat hebat, perancang terhebat. Ya, ayahku pasti membayar orang-orang terbaik dunia untuk membangun tempat ini. Oh, ya aku punya sesuatu untukmu.” Sifat buruk Reydera muncul lagi.

read more “The Triggering (1.2)”

The Triggering (1.1)

            Dunia Arkhamia, dunia dengan dua benua di utara dan selatan, sedang menikmati masa-masa damai. Tak ada kekacauan atau peperangan yang berarti. Semuanya hidup tenteram tanpa ancaman apa pun. Peristiwa besar yang pernah melanda Arkhamia sudah berakhir beberapa ratus tahun lalu. Kekacauan yang timbul saat itu mungkin sudah terlupakan. Tapi karena peristiwa itu juga beberapa perubahan terjadi pada Arkhamia. Sebuah tempat, daratan kecil yang menghubungkan benua selatan bagian barat dan timur yang hampir dipisahkan oleh teluk yang panjang, yang dulunya merupakan tempat yang ramai dan makmur, kini ditinggalkan dan tak pernah lagi dihuni. Daratan itu bernama Mirindast. Daerah ini biasanya hanya dilewati para penjelajah yang berjalan kaki, dan seluruhnya berupa hutan yang sangat lebat. Bekas kota di wilayah ini juga sudah berubah menjadi hutan. Di utara Mirindast juga terdapat rawa-rawa luas yang sudah tua.
            Tapi meski demikian, pembangunan berlangsung cukup pesat di masa damai ini. Di bagian barat kerajaan Amrasia, sebuah kerajaan di bagian barat benua utara, sebuah kota baru lengkap dengan dinding pertahanan dan kastilnya baru saja diresmikan. Kota ini berada di dekat pantai teluk yang landai yang diapit dua perbukitan terjal yang juga berbatasan langsung dengan laut. Di sekeliling kota ini juga banyak terdapat perbukitan hijau dengan pohon-pohon pinus yang tersebar. Kota ini memiliki dinding dengan enam menara jaga besar yang menghubungkan tiap dinding, pada dinding di antara menara jaga terdapat satu gerbang. Kastil besar di tengah kota ini yang terbagi menjadi bagian luar dan bagian dalam itu terhubung dengan dinding pertahanan oleh jembatan setinggi rumah di atas kota. Kastil bagian luar lebih dikhususkan untuk markas militer, sedangkan kastil bagian dalam layaknya rumah bagi keluarga kerajaan. Di antara kastil bagian luar dan dalam terdapat taman. Pangeran kerajaan Amrasia, Pangeran Reydera merayakan selesainya pembangunan kota ini dengan pesta besar-besaran. Sebenarnya, kota ini dibangun atas keinginannya. Pangeran Reydera yang berwatak agak sombong dan ingin dipuji, membangun kota ini dengan niat untuk membuat Putri Annefeira, putri cantik kerajaan Varen Kahi serta Pangeran Alavor, pangeran gagah dari kerajaan Raharaz terkesan. Sudah bertahun-tahun Reydera menyukai Annefeira. Semua bermula saat ia melihat Annefeira untuk pertama kalinya ketika putri itu bersama seorang pria tua berseragam prajurit memohon bantuan dan dukungan terhadap kerajaan Varen Kahi yang kala itu jatuh ke tangan pemberontak. Sejak itulah, ia selalu memohon pada ayahnya untuk memberikan yang terbaik pada Varen Kahi. Ditambah karena saat itu kerajaan putri Annefeira sedang dijajah, ia menjadi terpikir untuk membuatkan sebuah kota dengan benteng yang kuat untuk Annefeira. Niatnya itu semakin menjadi-jadi ketika ia mendengar bahwa Raja kerajaan Raharaz serta pangerannya yaitu Alavor menerima dengan sangat baik permohonan bantuan dan dukungan yang diajukan putri. Ia berpikir, pasti Alavor juga menginginkan Annefeira. Dan Reydera pun tidak tinggal diam. Ia segera membujuk ayahnya untuk segera membuatkannya kota yang ia inginkan itu. Tak butuh waktu lama bagi Reydera untuk menunggu sang Ayah mengabulkan keinginannya, karena memang kerajaan Amrasia adalah kerajaan terkaya di benua utara.
            Beberapa tahun berlalu, dan akhirnya Varen Kahi berhasil direbut kembali. Tapi saat itu, kota ini belum selesai dibangun. Dan akhirnya sekarang setelah beberapa tahun lagi, kota yang diberi nama Ainafar ini selesai. Reydera merayakannya dengan mengundang orang-orang kaya dan terkemuka di seluruh benua utara dan tak lupa Putri Annefeira, dan juga Pangeran Alavor yang ia undang sekedar untuk membuatnya terkesan.
            Perayaan berlangsung beberapa hari, dan malam ini adalah malam terakhir. Semua tamu berkumpul di ruang yang panjang dan besar dengan meja yang lebar dan panjang juga. Mereka tengah menikmati makan malam. Mereka semua terlihat bergembira dan mereka memuji Pangeran Reydera ketika ia mendekat. Mendengar pujian yang ditujukan padanya, Reydera tersenyum bangga. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Seseorang yang ia cari, tidak terlihat. Akhirnya ia menanyakan pada pelayan-pelayan dan mereka juga menjawab tidak melihat. Tentu saja, orang yang Reydera cari adalah Putri Annefeira, dan kebetulan Pangeran Alavor juga tidak terlihat. Reydera segera meninggalkan ruangan itu dan pergi mencari.
            Rupanya saat itu Pangeran Alavor sedang berada di atap melihat pemandangan pantai di malam hari. Ia hanya ditemani oleh seorang prajurit penjaga ketika kemudian, Putri Annefeira datang.
            “Jadi, di sini kau rupanya. Kau tidak makan?” kata Annefeira dengan lembut.
            Mendengarnya, Pangeran Alavor terkejut. “Oh, Putri. Kau sendiri, mengapa juga malam-malam ke sini?” Alavor berbalik.
            “Aku tidak makan banyak, dan aku juga merasa mungkin aku butuh udara segar.” Jawab Annefeira dengan senyum.
            “Baguslah, kupikir terjadi sesuatu.” Alavor membalas senyum manis Annefeira.
            “Seharusnya aku yang berkata begitu, kupikir terjadi sesuatu denganmu, maukah kau menceritakannya padaku?” Annefeira berjalan mendekat.
            “Eh, ini hanya soal mimpi. Dan ini tidak terlalu penting.” Alavor terlihat sedikit gugup.
            “Sudahlah, ceritakan saja, mungkin aku bisa membantu.” Kini Annefeira sudah berada di samping Alavor.
            “Hm, aku yakin kau pasti sudah melihat sang Jendral. Pria dengan baju pelindung terbuat dari emas. Tadi malam aku bermimpi memimpin pasukan. Jumlahnya sangat banyak, saking banyaknya, sebagian pasukanku tak terlihat olehku. Dan pasukan yang kupimpin mengenakan baju pelindung emas, tameng emas, dan pedang emas, ya semacam Pasukan Keemasan. Aku memimpin mereka menuju sebuah tempat, kemudian di depan aku melihat kegelapan. Dalam kegelapan itu, aku tak dapat melihat apa pun. Tapi entah mengapa, aku tetap memerintahkan mereka untuk menyerang kegelapan itu. Dan mereka semua patuh, walaupun aku sendiri tidak yakin ada apa dengan kegelapan itu.”
            “Menarik juga, menurutku mungkin suatu saat kau akan memimpin pasukan terbaikmu melawan musuh yang hebat, dan ... ehm ...”
            “Sudahlah, sudah kubilang ini tidak terlalu penting.”
            “Entahlah, menurutku kau terlalu meremehkannya. Aku juga pernah bermimpi seperti itu, kau beruntung orang-orang di belakangmu adalah orang-orang yang kuat dan tangguh. Dalam mimpiku, aku harus berjuang melindungi rakyat biasa melawan musuh yang bersenjata lengkap, tanpa ada satu pun prajuritku yang membantuku.” Annefeira mencoba mengenang masa lalunya yang pedih.
            “Eh, lalu?” Alavor menatap Annefeira yang menatap laut lepas.
            “Ketika aku terbangun, aku merenungkan mimpi itu. Sampai akhirnya aku memutuskan, bahwa rakyatku harus aku lindungi dengan tanganku sendiri, aku tidak boleh terlalu mengandalkan bantuan orang lain.”
            “Jadi, sejak saat itu kau mulai berlatih?” Tanya Alavor.
            “Ya, dan akhirnya, walau pun tidak dapat kupungkiri bahwa semuanya tak akan berhasil tanpa bantuanmu, setidaknya aku ikut memimpin pasukanku.” Annefeira lalu menoleh pada Alavor, secara tidak langsung memujinya atas kebaikan hatinya dulu.
            “Oh, tidak juga. Justru berkat dirimulah kerajaanmu kembali. Kehadiranmu telah memberi semangat tersendiri pada pasukanmu.” Alavor bukan jenis orang yang suka pujian.
            “Oh  ya?”
            “Tentu, apa artinya aku di depan rakyatmu.”
            Annefeira tersenyum, dan setelah terdiam beberapa saat, mereka melanjutkan pembicaraan mengenai hal yang lain. Sementara Reydera harus terkejut tatkala ia mendapati Annefeira dan Alavor berduaan di atap. Prajurit yang berjaga di tempat itu pun, sejak tadi menjauh dan tak ingin mengganggu kedua pangeran dan putri tersebut. Pada akhirnya, Reydera harus menerima bahwa ia telah kalah, tapi ia tak menyerah. Ia yakinkan dirinya bahwa ia masih punya harapan. Reydera memang orang yang pantang menyerah. Dan sekali lagi, ia harus memutar otak untuk mendapatkan perhatian dari sang putri yang dicintainya.
           
            Sementara itu di tempat lain, ketika di Ainafar orang-orang bergembira dengan perut kenyang, dua orang pemuda petualang sedang kelaparan di tengah belantara Mirindast di benua selatan. Eraldi, pemuda cerdas yang perhitungan dan Evanra, pemuda tangguh yang pemberani tengah berjalan melewati belantara Mirindast dan selama beberapa hari hanya menemukan buah-buahan. Eraldi bersikap sabar terhadap keadaan yang menimpanya dan memakan buah-buahan yang ia temukan, berbeda dengan Evanra yang ketika ia sudah bosan dengan buah, ia lebih memilih tidak makan sama sekali. Dan malam itu, mereka bermalam di dekat pohon yang berbuah tidak terlalu banyak.
            “Kau dengar itu?” Eraldi merasa mendengar sesuatu.
            “Itu suara perutku.” Jawab Evanra lesu.
            “Selapar apapun dirimu, kau tidak perlu aku memanjat dan mengambilkan buah untukmu kan?”
            “Errr, berhentilah bicara buah-buahan, aku bosan. Aku mau daging atau semacamnya.” Evanra tampak kesal.
            “Sudahlah, sekarang sudah larut malam. Kau tidak akan mungkin bisa menangkap seekor binatang pun dalam kondisi seperti ini. Lebih baik kau makan saja buahnya.”
            “Rrrrrr,” tampaknya Evanra sudah tidak tahan. “Hah, selamat malam.” Evanra menutupkan selimut pada kantung tidurnya ke kepalanya.
            “Ya sudah, selamat malam!” Eraldi juga bersiap untuk tidur.
            Akhirnya mereka berdua tertidur. Eraldi bisa tidur dengan nyenyak sementara Evanra harus tidur dalam keadaan kelaparan. Ia bahkan bermimpi sedang mengejar daging yang dapat berlari. Tapi sayang, daging itu berlari terlalu cepat dan Evanra tak dapat mengejarnya. Ia pun kini harus pasrah dengan perutnya yang tiba-tiba berbunyi dengan keras. Tiba-tiba, matanya terbuka dan satu detik setelahnya, perutnya berbunyi lagi. Evanra bangun dan melihat sekitar, masih agak gelap. Sepertinya ia bangun pada saat fajar baru menyingsing. Sebenarnya, ia ingin tidur lagi jika bukan karena perutnya yang sudah sejak kemarin keroncongan. Keadaan mungkin masih gelap, tapi sudah ada cukup cahaya untuk perburuan kecil. Ia mengambil tombak dan peralatan berburunya. Ketika hendak berangkat, kebetulan ia menatap pohon berbuah di dekat tempatnya bermalam itu. “Heh, buah, membosankan.” Akhirnya ia berangkat.
            Ternyata, Eraldi menyadari kepergian Evanra dan kini ikut bangun. “Dasar Evanra, masih gelap begini sudah berburu. Tapi aku juga agak lapar.” Eraldi bangun dan kemudian memanjat pohon berbuah di dekatnya dan sekalian memakan buahnya di atas pohon.
            Untuk beberapa waktu Eraldi hanya duduk di atas pohon sambil mengunyah buah yang ia petik sampai matahari terbit. Saat itu, ia sudah merasa cukup kenyang dan hendak turun. Baru satu langkah dari tempatnya, ia mendengar teriakan. Teriakan itu terdengar seperti teriakan orang yang baru saja terjatuh dalam lubang. Teringat bahwa Evanra sudah pergi beberapa waktu lalu, Eraldi jadi khawatir. Dengan cepat ia turun dari pohon, merapikan kantung tidurnya, mengambil sebuah tombak dan pergi menuju sumber suara yang ia yakin berasal dari Evanra.
            Memang benar Evanra terjatuh. Saat itu ia sedang mengejar seekor rusa dan ketika ia menginjak tanah di suatu tempat, ternyata itu bukan tanah tapi hanya dedaunan yang menutupi lubang di bawahnya. Dan tentu saja ia terjatuh. Untunglah bagian dalam lubang itu tidak terlalu keras. Evanra bisa langsung berdiri tanpa satu pun luka yang berarti. Dan tentu saja ia semakin menggerutu. Setelah membersihkan tanah yang menempel pada pakaiannya, ia lalu melihat ke atas dan mendapati bahwa ia memang tidak menginjak tanah saat itu, hanya daun-daunan. Evanra semakin pasrah ketika ia menyadari bahwa tanah di lubang itu terlalu lunak untuk ia panjat. Setiap kali ia mencoba naik, tanah yang ia pegang runtuh. Akhirnya ia duduk pasrah terhadap keadaannya, terjebak, dan dalam keadaan kelaparan. Kini ia menyesal tidak memakan buah-buahan seperti yang Eraldi lakukan. Jika saja ia makan, ia mungkin masih bisa bertahan sampai Eraldi menemukannya.
            Dalam rasa lapar, Evanra menunggu. Baru beberapa detik, Evanra sudah merasa bosan. Dilihatnya tempat sekelilingnya, gelap. Ia terjatuh dalam lubang di hutan lebat yang rindang pada pagi hari, tak ada cukup penerangan di lubang itu. Tapi  masih ada sedikit cahaya di sana, Evanra bisa melihat bongkahan tanah yang terjatuh ketika ia berusaha memanjat. Karena bosan, diambilnya bongkahan tanah itu dan dilemparnya ke depan. Saat akan melempar bongkahan yang lain, ia merasa ada yang aneh. Setahunya lubang tempat ia terjatuh hanya lubang kecil, tapi entah mengapa ia tak mendengar adanya suara benturan. Karena penasaran, ia melempar bongkahan tanah kedua ke arah yang sama. Dan memang benar, tidak ada suara benturan. Evanra menjadi sangat penasaran, ia pun berdiri dan melangkah ke arah itu. Setelah melangkahkan kakinya beberapa langkah, ia bisa meraba sesuatu. Tanah, tapi bentuknya tidak seperti dinding lurus. Akhirnya, ia menyadari bahwa dirinya baru saja menemukan terowongan. Akhirnya, sebuah senyum puas muncul di wajahnya. Kini ia menjadi lebih penasaran lagi. Jiwa petualang dan pemberani Evanra telah mendorong pemuda gagah itu masuk ke dalam terowongan itu, meskpiun tanpa penerangan apa pun.
            Eraldi dengan sedikit berlari mencoba mencari Evanra. Dengan membawa tombak dan beberapa dedaunan obat, ia menuju tempat sumber suara teriakan yang tadi ia dengar. Saat ini, matahari sudah terbit dan ia bisa lebih mudah melacak jejak Evanra pada dedaunan yang ia lewati. Tidak lama kemudian, Eraldi menemukan lubang tempat Evanra terjatuh.
            “Evanra? Kau disana? Hei, ini aku Eraldi, kau dengar?” Eraldi mendekati lubang itu dengan hati-hati. Karena tidak ada jawaban, ia berteriak, “Evanraaa!”
            Di dalam terowongan, Evanra berjalan dengan tanah menempel pada dinding tanah di sebelah kirinya. Saat berjalan dan kegelapan dan kesunyian, ia merasa mendengar sesuatu. Tapi ia tidak yakin apa itu. Untuk lebih memastikan, ia berhenti dan beristirahat sejenak. Dan kemudian, ia mendengar suara teriakan yang sudah melemah.
            “Evanra, kau dengar aku?” Itu suara Eraldi.
            “Ya, aku dengar, aku di sini.” Evanra membalas teriakan Eraldi.
            Ketika mendengar teriakan jawaban Evanra, Eraldi merasa bingung. Sejauh yang ia tahu, lubang di dekatnya itu tidak terlalu dalam dan besar. “Mengapa kau terdengar jauh sekali? Di mana kau sebenarnya?” Teriaknya.
            “Aku di terowongan. Lubang itu memiliki terowongan, dan aku sedang di dalamnya. Mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang bagus.”
            “Terowongan? Terowongan apa? Bagaimana mungkin ada terowongan di Mirindast? Seandainya ada, pasti sudah runtuh.” Balas Eraldi.
            “Entahlah, yang jelas aku ada di terowongan. Oh ya, di sini gelap, bisa kau ambilkan obor?”
            Eraldi tampak mengernyitkan dahi. “Aku tidak yakin dengan terowongan ini, sebaiknya kau keluar, kau bisa tersesat.”
            “Tentu, aku akan keluar, tapi tidak melalui pintu masuk. Dan kau tidak perlu khawatir, aku berjalan lurus. Sudahlah, ambilkan saja aku obor, aku akan menunggu.”
            Karena merasa tidak bisa memaksa Evanra keluar, Eraldi akhirnya kembali untuk menuruti permintaan Evanra. Tapi untuk berjaga-jaga, dibawanya ransel beserta seluruh isinya. Eraldi turun ke lubang itu dengan tali yang ia ikatkan pada batang pohon di dekatnya. Menyadari bahwa lubang itu cukup gelap, ia segera menyalakan obor. Ia bisa melihat tombak Evanra yang tergeletak di tanah, dan ia mengambilnya. Kemudian ketika ia menoleh, ia menemukan terowongan yang dimaksud. Perasaan ragu-ragu datang menghampirinya. Ia punya firasat yang tidak baik untuk terowongan ini. Seandainya bukan karena Evanra, ia tak akan pernah memasukinya.
            Akhirnya Eraldi memaksa dirinya masuk. Sejauh ini yang dikatakan Evanra benar, terowongannya lurus. “Evanra, dimana kau? Aku sudah datang.” Teriak Eraldi.
            Untuk sesaat, suasana hening.
            “Kau tidak akan percaya ini, aku menemukan sebuah ruangan. Dan entah bagaimana tapi cukup terang disini. Lupakan saja tentang obornya. Aku tidak membutuhkannya.”
            “Ruangan? Dan terang?” Kini Eraldi semakin bingung. Kira-kira ruangan apakah itu. Ia segera mempercepat langkahnya, meski sempat ragu ketika jalan mulai menurun, tapi ia yakin jika Evanra sudah melewatinya, jalan ini pasti baik-baik saja.
Rupanya jalan menurun itu lebih jauh dari yang ia perkirakan. Akhirnya, Eraldi berteriak lagi. “Hey, Evanra. Sebenarnya apa yang kau temukan?”
“Datang dan lihatlah sendiri.” Suara Eraldi terdengar cukup dekat.
Dan akhirnya setelah jalan menurun yang panjang, Eraldi sampai di jalan mendatar. Dan tidak jauh di depan, Eraldi melihat ada pancaran cahaya dari atas. “Itukah ruangan terang yang dibicarakan Evanra?” Gumam Eraldi dalam hati. Karena penasaran, Eraldi mempercepat langkahnya. Dan alangkah terkejutnya dirinya ketika ia sampai di ruangan itu.
Ruangan yang besar itu berbentuk kubah, dengan cahaya yang terpancar pada bagian aneh berbentuk lingkara cukup besar di tengah-tengah bagian kubah. Bagian itu tidak terbuat dari tanah sebagaimana dinding dan bagian yang lain, tapi lebih terlihat seperti air. Bagian itu terlihat seperti bagian berlubang yang diisi air dari atas. Entah bagaimana, tapi bagian itu seolah memiliki lapisan tipis yang tidak dapat ditembus air tapi ditembus cahaya. Cahaya inilah yang membuat ruangan besar ini terang, bahkan seperti yang dikatakan Evanra, obor sudah tidak diperlukan lagi di sini.
Pada bagian bawah ruangan itu, juga terdapat lubang. Ukuran lubang ini jauh lebih besar dari lubang masuk cahaya di langit-langit kubah. Lebar lubang ini hampir selebar ruangan dan memiliki dasar yang gelap gulita. Pada lubang ini, terdapat empat menara. Tiga menara berada di pinggir lubang dan membentuk segitiga dan ketiganya terhubung dengan menara keempat yang berada di pusat. Hanya menara keempat saja yang terhubung dengan lantai ruangan kubah ini, dengan jembatannya tepat di depan tempat Eraldi berdiri.
Eraldi bisa melihat bahwa Evanra sudah berada di menara-menara itu. Hal ini membuatnya memberanikan dirinya untuk ikut melihat-lihat keempat menara itu. Sambil berjalan, Eraldi mengagumi lubang cahaya ruangan itu, sementara Evanra terlihat sibuk dengan tiga tongkat emas dengan berlian berwarna merah, biru muda, dan putih di bagian ujungnya itu. Ia menemukan tongkat-tongkat itu di tiga menara yang di pinggir dan mengambilnya. Di bagian tengah menara keempat, ada semacam meja yang tingginya setinggi dada Evanra dengan gambar-gambar segitiga yang aneh dan tiga lubang. Evanra merasa tongkat-tongkat ini pasti muat ke dalam lubang itu jadi ia mencobanya. Meskipun tidak terjadi apa-apa, ia tidak tinggal diam. Ia berpikir mungkin ia memasukkan tongkat-tongkat itu ke lubang yang salah. Ia pun mencabut semua tongkatnya dan kemudian mulai meletakkannya dengan urutan berbeda. Sayangnya, sebelum ia selesai memasukkan tongkat ketiga, Eraldi melihatnya.
“Evanra jangan!” Teriak Eraldi.
Evanra menoleh, dan diam.
“Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau tidak menyentuh benda apa pun di sini.” Kata Eraldi sambil berjalan mendekat.
“Kenapa tidak?” Jawab Evanra polos.
“Heh, sekarang aku tanya tempat apa ini?”
“Entahlah.”
“Nah, kita tidak tahu tempat apa ini, jika kita menyentuh benda-benda di sini mungkin akan terjadi sesuatu yang mengerikan.”
“Mengerikan? Kenapa kau berpikir begitu?” Sepertinya Evanra masih belum mengerti.
“Aduh, ya sudahlah, sekarang kembalikan benda itu ke tempatnya semula.”
“Maksudmu di sini.”
“Ya dimana lagi, kau pikir di bawah sana, ha?” Kata Eraldi kesal sambil menunjuk jurang gelap di sampingnya.
“Ya baiklah.” Evanra memasukkan tongkat emas ketiga ke tempatnya.
“Nah, begitu. Sekarang jangan sentuh apa pun lagi!”
Untuk beberapa detik, suasana hening. Evanra masih berdiri di depan meja batu tempat ia meletakkan ketiga tongkat itu sementara Eraldi kini sudah sampai di menara tengah tempat Evanra berada. Eraldi mengamati Evanra yang masih terpaku, lalu tiba-tiba ketiga intan pada tongkat emas itu bercahaya.
“Wow.” Kata Evanra.
Cahaya itu kemudian menyebar. Beberapa gambar garis di menara itu juga mulai bercahaya dan membentuk simbol-simbol segitiga. Setelah itu garis cahaya itu merambat menuju ketiga menara yang lainnya. Evanra takjub dan gembira melihat hal aneh ini, sementara itu Eraldi justru semakin khawatir.
“Jangan katakan kalau tadi itu bukan tempatnya semula.” Katanya pada Evanra.
“Memang bukan.”
“Ya, ampun.” Eraldi menepuk dahinya.
Kini garis-garis cahaya sudah bersinar di semua menara, dan kini cahayanya makin terang. Evanra semakin kagum sementara Eraldi semakin khawatir. Eraldi dengan perlahan berjalan mundur ke pinggir. Sepertinya ia ingin segera melarikan diri dari tempat itu.
“Evanra, kurasa sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Ayo, cepat!”
Sambil terus mengagumi kejadian itu, Evanra menuruti permintaan Eraldi. Saat Evanra sudah dekat dengan Eraldi, Eraldi berlari. Tentu tidak sulit bagi Evanra untuk menyusul Eraldi di jembatan. Dan ketika ia sudah berhasil memegang pundak Eraldi, tempat itu berguncang. Guncangannya cukup dahsyat, tapi hanya dalam waktu satu detik. Mereka berdua terjatuh karena guncangan itu. Evanra masih terlihat tenang, sementara wajah Eraldi sudah mulai pucat.
“Aku punya firasat yang sangat buruk tentang hal ini.” Kata Eraldi.
“Hey, lihat. Sepertinya ada yang bercahaya di bawah sana.”
Eraldi mengikuti apa yang dikatakan Evanra, dan mereka berdua melihat adanya kabut besar yang bercahaya jingga dan biru muda yang berputar-putar mengelilingi menara di tengah dan merambat naik dari dalam jurang yang tadinya sangat gelap itu.
Tanpa berpikir panjang, Eraldi segera bangun. Tidak lupa ia juga mengangkat Evanra agar segera bangun juga dan kemudian berlari lagi. Tapi semuanya tidak seperti yang ia harapkan. Ketika ia melihat ke depan, berdiri di depannya tidak terlalu jauh, seorang pria yang terlihat tua berpakaian serba putih dengan rambutnya yang sudah putih melihat tajam ke arahnya. Eraldi semakin ketakutan ketika pria tua itu bukannya ikut berlari tapi justru mendekat ke arahnya. Eraldi pun mundur. Melihat Eraldi mundur, Evanra juga ikut mundur. Wajah pria tua itu sebenarnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Tapi tampaknya, ia terlihat marah. Pria tua itu terus berjalan mendekat, sampai akhirnya Eraldi dan Evanra sampai kembali di menara tengah. Baru di saat itu, Eraldi berani berbicara.
“Eh, maaf Pak, kalau anda tidak keberatan, kami ingin keluar dari tempat ini.”
“Ya, kami hanya eh, maksudku, aku hanya memindahkan tongkat ini saja, kalau kau tidak suka, aku bisa memindahkannya kembali untukmu.” Evanra menambahi.
Pria tua itu kemudian berhenti, tapi ia baru berbicara beberapa detik kemudian. Setelah ia berkedip.
“Jadi kalian ingin keluar? Aku bisa membantu kalian.” Kata pria tua itu.
Tepat setelah pria tua itu berbicara, kabut merah dan biru yang berputar tadi sudah mencapai puncak menara dan menghancurkan jembatan. Tapi kabut itu masih dalam kondisi berputar dan semakin ke atas menuju lubang cahaya yang berisi air. Entah bagaimana caranya, tapi kabut itu terlihat menembus air itu.
Dan kemudian, pria tua itu mengeluarkan tangannya yang tadinya tersembunyi oleh jubahnya. Ia kemudian menengadahkan tangannya dan sebagian kabut merah dan biru itu tertarik pada tangannya. Kabut merah tertarik menuju tangan kanannya, sedangkan kabut biru tertarik menuju tangan kirinya. Terus menerus, sampai kabut itu terkumpul dan membentuk sesuatu seperti bola.
“Eh, maaf Pak. Mungkin perlu kami beritahu kalau jembatannya sudah tiada, lalu bagaimana anda akan mengeluarkan kami?” Tanya Eraldi.
Beberapa saat kemudian, bola merah dan biru dari kabut itu sudah lebih besar dari ukuran kepala manusia. Tapi kabut-kabut masih ada yang tertarik ke tangan pria tua itu, dan sisanya naik menembus air melalui lubang cahaya di atas.
“Kalian akan keluar, dengan ini!” Pria tua itu lalu melemparkan kedua bola kabutnya ke arah Eraldi dan Evanra. Bola kabut itu berputar-putar sebelum akhirnya mengenai kedua bocah itu. Bola kabut merah mengenai Evanra, sedangkan yang biru mengenai Eraldi. Ketika kedua bola itu mengenai Eraldi dan Evanra, mereka langsung terdorong dengan hebat ke belakang sampai akhirnya mereka masuk ke dalam kabut-kabut yang berputar itu dan ikut terbawa naik ke atas. Saat itu, yang bisa mereka lihat hanya warna merah dan biru yang kemudian memudar dan menjadi hanya satu warna. Mereka juga merasakan tubuh mereka dirasuki oleh sesuatu. Dan setelah itu, mereka tidak merasakan apa-apa lagi.
read more “The Triggering (1.1)”