Kamis, 13 Mei 2010

The Triggering (1.2)

Pagi itu, di Ainafar, Annefeira dan Alavor bersiap untuk meninggalkan kota Ainafar menuju kota masing-masing. Begitu juga dengan sebagian besar tamu yang Reydera undang ke kota itu. Sebagian dari mereka yang kaya raya memilih untuk membeli rumah di kota ini. Tapi tentu saja, Reydera masih menyimpan sesuatu untuk diberikan pada dua tamu istimewanya itu. Saat itu, Annefeira sudah siap dengan kereta kuda dan pengawalnya di gerbang, ia hanya tinggal mengucapkan kata perpisahan. Akhirnya Reydera datang dengan seorang prajuritnya. Prajurit pengawalnya itu membawa sesuatu yang ditutupi kain.
“Ehm, Putri, sebelum kau pergi, aku ingin kau menyimpan ini!” Pengawal Reydera mengeluarkan sebuah pedang dengan pangkal emas berukir dan sebuah intan di tengahnya. Sarung pedang itu juga dihiasi dengan emas. Pedang itu lalu diberikan pada Reydera, yang kemudian menyerahkannya pada Annefeira. Tapi mengetahui bahwa pedang itu pasti pedang berharga, Annefeira agak sungkan.
“Kau yakin aku boleh menyimpan ini?” Tanya Annefeira.
“Tentu, aku akan sangat senang kalau kau mau menerimanya.” Jawab Reydera.
“Baiklah, terima kasih. Dan, terima kasih juga sudah mengundangku ke tempat ini. Walaupun agak dingin, tapi aku suka pemandangannya di sekitar sini.” Kata Annefeira dengan senyuman.
Mendengar hal itu, jantung Reydera berdebar-debar. Ia merasa sudah berhasil membuat sang Putri terkesan. Ia merasa sangat bangga saat itu. Tidak ada yang lebih membuatnya bahagia selain Annefeira yang tersenyum karena dirinya. Reydera membayangkan, jika Annefeira sangat menyukai tempat ini, kira-kira apa yang akan terjadi jika kota ini benar-benar ia berikan pada Annefeira. Ia pun mulai berprasangka agak berlebihan. Dan karena rasa sukanya itu, ia hampir saja benar-benar melakukannya. Meskipun mungkin nanti Annefeira akan sungkan menerimanya, Reydera sangat yakin bahwa sebenarnya Annefeira sangat menyukai tempat ini. Ia baru saja menyusun kata-kata saat itu, ketika Alavor datang.
“Di sini kau rupanya Reydera, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas undangannya.” Alavor datang dan menyalami Reydera. Alavor juga sempat memandang Annefeira sebentar, yang saat itu juga memandang dan tersenyum padanya.
“Oh, ya ya, tentu saja, sama-sama.”
“Tempat ini cukup indah, aku yakin Putri pasti sangat menikmati saat-saat di sini.” Kata Alavor lagi.
Annefeira hanya tersenyum.
“Dan, sebelum aku pergi, juga setelah kau selesai bicara dengan Annefeira, bisakah kau tunjukkan perancang kota ini. Aku tertarik dengan rancangan bentengmu.”
“Oh, tentu.”
Saat itu, Annefeira merasa dipanggil dari belakang. Dan ketika ia menoleh, ternyata yang memanggilnya adalah para pengawalnya. Sang kusir kereta kudanya memberi isyarat bahwa kereta sudah siap dengan menunduk dan seolah sedang mempersilahkan Putri Annefeira naik ke kereta. Ketika melihatnya, Annefeira tersenyum, dan mengangguk.
“Eh, maaf teman-teman, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa.” Annefeira melambaikan tangan dan langsung menuju keretanya.
Reydera yang saat itu masih ingin mengatakan sesuatu pada Annefeira, hanya bisa terbata-bata melihat Annefeira berjalan menjauhinya. Tapi akhirnya, ia pun merelakan Annefeira pergi, dan melihatnya menaiki keretanya dengan anggun dan berpegangan pada tangan kusir tua kepercayaannya. Saat Annefeira sudah masuk dan tak terlihat lagi, Alavor menepuk bahunya. Reydera menoleh.
“Dia cantik, bukan?”
Reydera agak bingung. “Eh ya, tentu saja.”
“Ya, jika aku tanya semua orang mereka pasti juga setuju dengan kecantikannya.”
Reydera masih terlihat bingung. “Sebenarnya apa maksudmu?”
“Maksudku?” Tanya Alavor.
“Apakah kau bermaksud mengatakan bahwa semua orang menyukainya?”
“Sebenarnya bukan itu yang kumaksud, tapi ya, menurutku semua orang menyukainya.”
“Lalu apa yang ingin kau katakan sebenarnya?”
“Baiklah, langsung saja, dia adalah gadis yang berbeda. Dia memang terlihat cantik, tapi ternyata dia juga seorang ksatria. Rakyatnya pasti bangga memilikinya.” Alavor tadinya melihat ke arah gerbang, ia lalu menoleh pada Reydera.
“Ya, rakyatnya pasti bangga. Tapi tunggu ...” Awalnya Reydera setuju dengan Alavor, tapi kemudian sebuah prasangka buruk datang. Ia bergumam, “jangan-jangan ia sedang menyindirku, karena aku adalah pangeran tampan tapi aku sama sekali bukan ksatria”.
“Tapi tunggu apa?” Tanya Alavor.
“Eh, lupakan saja. Oh ya, tadi kau bilang kau ingin bertemu dengan perancang tempat ini bukan? Akan kuantar. Kuberi tahu kau, dia sangat hebat, perancang terhebat. Ya, ayahku pasti membayar orang-orang terbaik dunia untuk membangun tempat ini. Oh, ya aku punya sesuatu untukmu.” Sifat buruk Reydera muncul lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar