Kamis, 13 Mei 2010

The Triggering (1.5)

Di Ainafar bagian timur, Jendral Liedra sudah siap dengan kuda dan pasukannya ketika ia melihat air datang dan menerjang, diikuti dengan penduduk yang berlarian. Ia berjalan mendekat untuk melihat, dan memastikan bahwa itu benar-benar air. Beberapa prajurit lain juga mendekat dan berkumpul di dekat Jendral.
“Berita baru saja tersiar bahwa pasukan aneh itu bisa mengendalikan air dan es, dan ini adalah ulah mereka juga.” Kata seorang prajurit pada Jendral.
“Ini? Ulah mereka? Memangnya siapa mereka ini?” Jendral terlihat tak percaya.
“Hal yang lebih penting lagi Jendral, mereka datang.” Kata prajurit lainnya sambil menunjuk benda putih di kejauhan.
“Apakah benda itu es?” Tanya prajurit lainnya.
“Kurasa ya, sekarang semuanya bersiap dan bentuk barisan. Hunuskan pedang, dan panah, kita akan segera bertempur.” Jendral Liedra kemudian mencabut pedangnya yang pangkalnya terbuat dari emas, lalu mengangkatnya. “Dengan pedang ini kita berperang, pedang yang akan menjadi saksi perjuangan kita, dan sampai ia patah, kita takkan berhenti.” Setelah beberapa detik, Jendral mengarahkan pedangnya ke depan. “Serang!”
Jendral Liedra dengan diikuti puluhan pasukan kuda lainnya melangkah maju. Kini air sudah mulai surut, air mulai mengalir kembali ke laut. Jalan antara gerbang timur dan kastil di pusat kota adalah jalan yang lurus, sehingga pasukan musuh di kejauhan dapat terlihat. Kini mereka berhadap-hadapan, Jendral Liedra dan prajurit berkudanya dengan pasukan musuh di atas papan es. Meskipun jaraknya masih cukup jauh, tapi karena kedalaman air yang mulai menurun, pasukan musuh melompat dari papan es buatan mereka dan mulai berlari. Itu pun setelah mereka memecahkan dan mengarahkan serpihan tameng es pada Jendral Liedra dan pasukannya. Pecahan es yang sengaja dibuat tajam itu mengenai seluruh kuda dan menjatuhkannya, termasuk kuda Jendral yang terkena di bagian kaki. Genangan air yang masih setinggi betis sedikit meredam benturan dengan jalan kota. Jendral Liedra segera berdiri kembali. Melihat bahwa semua kuda tersayat, dan pasukan musuh kini hanya berlari, Jendral memutuskan bahwa ia juga akan berlari.
“Lupakan kudanya, jika kita tak bisa berlari dengan kuda kita, kita akan berlari dengan kaki kita sendiri!” Jendral meneriakkan kata-kata tersebut untuk membakar semangat pasukannya. Dan setelah itu, ia segera berlari menuju musuh, dan kemudian diikuti pasukannya. Di depannya, ia melihat musuhnya sebagian besar membawa pedang yang sebenarnya mereka dapatkan dari prajurit Ainafar yang sudah mereka bunuh. Beberapa yang belum mendapatkan senjata apa pun, mengambil air laut dan membekukannya dalam bentuk tombak atau pedang. Cukup jauh di belakang barisan musuh yang berlari, ia melihat ada satu musuh yang hanya berjalan dengan santai sambil membawa sebuah pedang yang belatinya dilapisi es agak tebal. Jendral segera yakin bahwa ia pasti pemimpin atau memiliki jabatan lebih tinggi. Tapi ia sadar, sebelum menghadapinya ia harus menembus barisan pasukan musuh di depannya.
Barisan pasukan pimpinan Jendral Liedra dan barisan pasukan es musuh seperti dua garis dengan satu titik yang terletak lebih maju yang saling mendekat. Titik itu adalah Jendral Liedra. Ia maju dengan langkah yang mantap dan pasti sementara pasukannya mengikuti di belakangnya. Teriakan semangat perjuangan menggema di jalanan luas yang sedikit tergenang itu. Semuanya memperlihatkan kobaran semangat yang luar biasa, termasuk Jendral Liedra yang berlari sendirian di depan barisan pasukannya.
Akhirnya waktu pertempuran telah tiba. Jendral Liedra sudah tiba di depan hidung musuh dan disambut dengan sebuah ayunan dari atas. Jendral Liedra segera menepis serangan itu dengan ayunan dari kanan bawahnya. Ketika pedang musuh hampir terlempar karena kuatnya ayunan Liedra, ia segera menyayat tubuh musuhnya dan menjatuhkannya. Musuh kedua datang dengan ayunan mendatar. Liedra dengan lincah menahan serangan tersebut. Setelah satu dua kali menahan lagi serangan musuh, Liedra memperoleh kesempatan untuk menusuk musuhnya yang satu ini. Musuh ketiga datang dengan ayunan dari kanan atas. Dengan mudah Liedra menangkisnya. Dan setelah berhasil menahan sebuah serangan mendatar, Liedra berhasil berputar sambil mengayunkan pedangnya dan menjatuhkan musuh ketiganya. Kini tidak ada lagi musuh yang menghadapi Jendral Liedra, pasukan musuh kini sudah dilawan pasukannya. Dan sekarang tinggallah Jendral Liedra berhadapan dengan seorang prajurit es yang memakai pakaian berbeda. Liedra berjalan mendekat sementara manusia pengendali air dan es ini hanya berdiri dan memperhatikannya sambil tersenyum meremehkan.
Setelah jaraknya sudah cukup dekat, Liedra berbicara padanya. “Jadi kau yang memimpin penyerangan ini?”
Prajurit es itu tertawa, dan menjawab. “Aku hanya kapten yang menerima perintah.”
Liedra terdiam sebentar. “Siapapun kau, dan siapun yang memberimu perintah, akan ku pastikan kau menerima kematianmu saat ini juga.”
“Kita lihat saja.” Balas sang kapten sambil mengangkat pedang berlapis es miliknya.
Pertarungan kedua bagi Liedra dimulai, ia berlari ke depan sambil mengayunkan pedangnya ke arah kapten musuh itu dengan kuat. Sang kapten pun, setelah melihat bahwa Liedra tidak dapat diremehkan, juga mengayunkan pedangnya dengan kuat. Ketika menahan serangan kapten musuh, Liedra agak terkejut dengan kekuatannya. Sebenarnya hal itu justru membuat semangatnya lebih membara. Tapi permainan pedang kapten itu ternyata memang luar biasa, seolah ia sudah biasa memegang pedang. Liedra pun kesulitan menemukan kesempatan untuk menyerang. Ia kemudian dipersulit lagi dengan terlemparnya pecahan lapisan es dari pedang sang kapten musuh yang sering mengenai mukanya. Dan Liedra juga tidak pernah bertarung di tempat yang tergenang air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar