Rombongan Annefeira kini telah sampai di bukit cukup tinggi yang Deirel maksudkan. Agar dapat menikmati pemandangan, Annefeira turun dari kereta kudanya dan melihat sekitar. Di selatan ia bisa melihat laut yang biru dan indah, di timur ia melihat pemandangan hijau pepohonan, dan di utara ia bisa melihat di kejauhan adanya rombongan berkuda yang ia yakin itu pasti Alavor. Annefeira memejamkan mata sambil menghirup udara sekitar yang segar, lalu ia hembuskan diiringi dengan senyum bahagia. Tapi saat ia melihat ke arah barat, ke arah Ainafar, senyumnya menghilang. Ia terlihat bingung.
“Apa itu? Mengapa Ainafar terlihat biru?” Tanya Annefeira.
“Aku tidak bisa melihat jelas dengan mata tuaku. Tuan prajurit bisa kau jelaskan apa yang terjadi di sana!” Jawab Deirel.
“Ehm, ini mungkin sulit dipercaya, tapi eh, menurut penglihatanku kota Ainafar sedang terbanjiri air laut.” Jawab seorang prajurit.
“Bagaimana itu bisa terjadi? Dan benda apa yang berwarna putih itu?” Tanya Annefeira pada prajuritnya.
“Aku tidak tahu apa-apa mengenai itu, Putri.” Jawab prajuritnya.
“Sepertinya mereka membutuhkan pertolongan.” Kata Annefeira lagi.
“Jika memang Ainafar terbanjiri, kurasa mereka memang membutuhkan sedikit bantuan.” Kata Deirel.
“Kita harus ke sana, dengan cepat.” Kata Annefeira kemudian.
“Tapi Putri, kereta ini tidak dibuat untuk kecepatan tinggi, lagipula kondisi jalannya juga tidak memungkinkan.” Kata Deirel lagi.
“Aku akan ambil kudanya saja, Paman.” Kata Annefeira pada Deirel. “Salah satu dari kalian menuggu di sini menemani Paman Dei, yang lainnya ikut aku ke Ainafar.” Kata Annefeira kemudian pada prajuritnya.
Setelah Annefeira melepas salah satu kuda dari keretanya, dan seorang prajurit yang tinggal telah ditentukan, ia segera menungganginya dan mengucap kata terakhir pada Deirel. “Kau benar, Paman, pemandangan di sini indah, kuyakin kau tidak akan bosan. Aku berangkat.”
Deirel melambaikan tangannya, dan bersama seorang prajurit ia menyaksikan Annefeira berangkat. Ketika Annefeira sudah jauh, tampaknya Deirel bingung hendak melakukan apa. Pemandangannya memang indah dari tempat itu, tapi ia merasa tidak nyaman dengan seorang prajurit di dekatnya yang hanya diam. Ia pun mencoba membuka pembicaraan.
“Pemandangannya indah, ya.”
“Apakah itu kereta Putri Annefeira yang di sana?” Tanya seorang prajurit sambil menunjuk ke sebuah bukit di selatan pada Alavor.
“Ya, kurasa.” Jawab Alavor.
“Lalu mengapa mereka, keretanya berhenti dan beberapa pengendara kuda sepertinya berjalan kembali ke Ainafar?”
“Benarkah?” Alavor menghentikan kudanya dan mencoba melihat jauh ke selatan. Prajuritnya yang lain juga langsung menghentikan kuda mereka.
“Benar Pangeran, tapi sepertinya hanya ada dua orang di kereta itu, dan sepertinya itu bukan Putri.” Jelas seorang prajurit lainnya.
“Berarti Putri bersama pengendara kuda yang kalian katakan tadi. Lalu mengapa mereka ke Ainafar?” Alavor masih bingung.
“Mungkin ia meninggalkan sesuatu.” Jawab seorang prajurit.
“Tidak, jika hanya barang tertinggal ia tak akan sampai meninggalkan keretanya. Kupikir sesuatu sedang terjadi di Ainafar.” Kata Alavor.
“Tidak ada api, tidak ada asap. Setidaknya tidak lebih buruk dari dua hal itu.”
“Mungkin kita juga harus kembali.” Kata Alavor pada prajuritnya.
“Kami akan mengikuti kemana pun anda pergi, Pangeran.” Jawab prajuritnya.
“Kalau begitu, Ayo!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar