Dunia Arkhamia, dunia dengan dua benua di utara dan selatan, sedang menikmati masa-masa damai. Tak ada kekacauan atau peperangan yang berarti. Semuanya hidup tenteram tanpa ancaman apa pun. Peristiwa besar yang pernah melanda Arkhamia sudah berakhir beberapa ratus tahun lalu. Kekacauan yang timbul saat itu mungkin sudah terlupakan. Tapi karena peristiwa itu juga beberapa perubahan terjadi pada Arkhamia. Sebuah tempat, daratan kecil yang menghubungkan benua selatan bagian barat dan timur yang hampir dipisahkan oleh teluk yang panjang, yang dulunya merupakan tempat yang ramai dan makmur, kini ditinggalkan dan tak pernah lagi dihuni. Daratan itu bernama Mirindast. Daerah ini biasanya hanya dilewati para penjelajah yang berjalan kaki, dan seluruhnya berupa hutan yang sangat lebat. Bekas kota di wilayah ini juga sudah berubah menjadi hutan. Di utara Mirindast juga terdapat rawa-rawa luas yang sudah tua.
Tapi meski demikian, pembangunan berlangsung cukup pesat di masa damai ini. Di bagian barat kerajaan Amrasia, sebuah kerajaan di bagian barat benua utara, sebuah kota baru lengkap dengan dinding pertahanan dan kastilnya baru saja diresmikan. Kota ini berada di dekat pantai teluk yang landai yang diapit dua perbukitan terjal yang juga berbatasan langsung dengan laut. Di sekeliling kota ini juga banyak terdapat perbukitan hijau dengan pohon-pohon pinus yang tersebar. Kota ini memiliki dinding dengan enam menara jaga besar yang menghubungkan tiap dinding, pada dinding di antara menara jaga terdapat satu gerbang. Kastil besar di tengah kota ini yang terbagi menjadi bagian luar dan bagian dalam itu terhubung dengan dinding pertahanan oleh jembatan setinggi rumah di atas kota. Kastil bagian luar lebih dikhususkan untuk markas militer, sedangkan kastil bagian dalam layaknya rumah bagi keluarga kerajaan. Di antara kastil bagian luar dan dalam terdapat taman. Pangeran kerajaan Amrasia, Pangeran Reydera merayakan selesainya pembangunan kota ini dengan pesta besar-besaran. Sebenarnya, kota ini dibangun atas keinginannya. Pangeran Reydera yang berwatak agak sombong dan ingin dipuji, membangun kota ini dengan niat untuk membuat Putri Annefeira, putri cantik kerajaan Varen Kahi serta Pangeran Alavor, pangeran gagah dari kerajaan Raharaz terkesan. Sudah bertahun-tahun Reydera menyukai Annefeira. Semua bermula saat ia melihat Annefeira untuk pertama kalinya ketika putri itu bersama seorang pria tua berseragam prajurit memohon bantuan dan dukungan terhadap kerajaan Varen Kahi yang kala itu jatuh ke tangan pemberontak. Sejak itulah, ia selalu memohon pada ayahnya untuk memberikan yang terbaik pada Varen Kahi. Ditambah karena saat itu kerajaan putri Annefeira sedang dijajah, ia menjadi terpikir untuk membuatkan sebuah kota dengan benteng yang kuat untuk Annefeira. Niatnya itu semakin menjadi-jadi ketika ia mendengar bahwa Raja kerajaan Raharaz serta pangerannya yaitu Alavor menerima dengan sangat baik permohonan bantuan dan dukungan yang diajukan putri. Ia berpikir, pasti Alavor juga menginginkan Annefeira. Dan Reydera pun tidak tinggal diam. Ia segera membujuk ayahnya untuk segera membuatkannya kota yang ia inginkan itu. Tak butuh waktu lama bagi Reydera untuk menunggu sang Ayah mengabulkan keinginannya, karena memang kerajaan Amrasia adalah kerajaan terkaya di benua utara.
Beberapa tahun berlalu, dan akhirnya Varen Kahi berhasil direbut kembali. Tapi saat itu, kota ini belum selesai dibangun. Dan akhirnya sekarang setelah beberapa tahun lagi, kota yang diberi nama Ainafar ini selesai. Reydera merayakannya dengan mengundang orang-orang kaya dan terkemuka di seluruh benua utara dan tak lupa Putri Annefeira, dan juga Pangeran Alavor yang ia undang sekedar untuk membuatnya terkesan.
Perayaan berlangsung beberapa hari, dan malam ini adalah malam terakhir. Semua tamu berkumpul di ruang yang panjang dan besar dengan meja yang lebar dan panjang juga. Mereka tengah menikmati makan malam. Mereka semua terlihat bergembira dan mereka memuji Pangeran Reydera ketika ia mendekat. Mendengar pujian yang ditujukan padanya, Reydera tersenyum bangga. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Seseorang yang ia cari, tidak terlihat. Akhirnya ia menanyakan pada pelayan-pelayan dan mereka juga menjawab tidak melihat. Tentu saja, orang yang Reydera cari adalah Putri Annefeira, dan kebetulan Pangeran Alavor juga tidak terlihat. Reydera segera meninggalkan ruangan itu dan pergi mencari.
Rupanya saat itu Pangeran Alavor sedang berada di atap melihat pemandangan pantai di malam hari. Ia hanya ditemani oleh seorang prajurit penjaga ketika kemudian, Putri Annefeira datang.
“Jadi, di sini kau rupanya. Kau tidak makan?” kata Annefeira dengan lembut.
Mendengarnya, Pangeran Alavor terkejut. “Oh, Putri. Kau sendiri, mengapa juga malam-malam ke sini?” Alavor berbalik.
“Aku tidak makan banyak, dan aku juga merasa mungkin aku butuh udara segar.” Jawab Annefeira dengan senyum.
“Baguslah, kupikir terjadi sesuatu.” Alavor membalas senyum manis Annefeira.
“Seharusnya aku yang berkata begitu, kupikir terjadi sesuatu denganmu, maukah kau menceritakannya padaku?” Annefeira berjalan mendekat.
“Eh, ini hanya soal mimpi. Dan ini tidak terlalu penting.” Alavor terlihat sedikit gugup.
“Sudahlah, ceritakan saja, mungkin aku bisa membantu.” Kini Annefeira sudah berada di samping Alavor.
“Hm, aku yakin kau pasti sudah melihat sang Jendral. Pria dengan baju pelindung terbuat dari emas. Tadi malam aku bermimpi memimpin pasukan. Jumlahnya sangat banyak, saking banyaknya, sebagian pasukanku tak terlihat olehku. Dan pasukan yang kupimpin mengenakan baju pelindung emas, tameng emas, dan pedang emas, ya semacam Pasukan Keemasan. Aku memimpin mereka menuju sebuah tempat, kemudian di depan aku melihat kegelapan. Dalam kegelapan itu, aku tak dapat melihat apa pun. Tapi entah mengapa, aku tetap memerintahkan mereka untuk menyerang kegelapan itu. Dan mereka semua patuh, walaupun aku sendiri tidak yakin ada apa dengan kegelapan itu.”
“Menarik juga, menurutku mungkin suatu saat kau akan memimpin pasukan terbaikmu melawan musuh yang hebat, dan ... ehm ...”
“Sudahlah, sudah kubilang ini tidak terlalu penting.”
“Entahlah, menurutku kau terlalu meremehkannya. Aku juga pernah bermimpi seperti itu, kau beruntung orang-orang di belakangmu adalah orang-orang yang kuat dan tangguh. Dalam mimpiku, aku harus berjuang melindungi rakyat biasa melawan musuh yang bersenjata lengkap, tanpa ada satu pun prajuritku yang membantuku.” Annefeira mencoba mengenang masa lalunya yang pedih.
“Eh, lalu?” Alavor menatap Annefeira yang menatap laut lepas.
“Ketika aku terbangun, aku merenungkan mimpi itu. Sampai akhirnya aku memutuskan, bahwa rakyatku harus aku lindungi dengan tanganku sendiri, aku tidak boleh terlalu mengandalkan bantuan orang lain.”
“Jadi, sejak saat itu kau mulai berlatih?” Tanya Alavor.
“Ya, dan akhirnya, walau pun tidak dapat kupungkiri bahwa semuanya tak akan berhasil tanpa bantuanmu, setidaknya aku ikut memimpin pasukanku.” Annefeira lalu menoleh pada Alavor, secara tidak langsung memujinya atas kebaikan hatinya dulu.
“Oh, tidak juga. Justru berkat dirimulah kerajaanmu kembali. Kehadiranmu telah memberi semangat tersendiri pada pasukanmu.” Alavor bukan jenis orang yang suka pujian.
“Oh ya?”
“Tentu, apa artinya aku di depan rakyatmu.”
Annefeira tersenyum, dan setelah terdiam beberapa saat, mereka melanjutkan pembicaraan mengenai hal yang lain. Sementara Reydera harus terkejut tatkala ia mendapati Annefeira dan Alavor berduaan di atap. Prajurit yang berjaga di tempat itu pun, sejak tadi menjauh dan tak ingin mengganggu kedua pangeran dan putri tersebut. Pada akhirnya, Reydera harus menerima bahwa ia telah kalah, tapi ia tak menyerah. Ia yakinkan dirinya bahwa ia masih punya harapan. Reydera memang orang yang pantang menyerah. Dan sekali lagi, ia harus memutar otak untuk mendapatkan perhatian dari sang putri yang dicintainya.
Sementara itu di tempat lain, ketika di Ainafar orang-orang bergembira dengan perut kenyang, dua orang pemuda petualang sedang kelaparan di tengah belantara Mirindast di benua selatan. Eraldi, pemuda cerdas yang perhitungan dan Evanra, pemuda tangguh yang pemberani tengah berjalan melewati belantara Mirindast dan selama beberapa hari hanya menemukan buah-buahan. Eraldi bersikap sabar terhadap keadaan yang menimpanya dan memakan buah-buahan yang ia temukan, berbeda dengan Evanra yang ketika ia sudah bosan dengan buah, ia lebih memilih tidak makan sama sekali. Dan malam itu, mereka bermalam di dekat pohon yang berbuah tidak terlalu banyak.
“Kau dengar itu?” Eraldi merasa mendengar sesuatu.
“Itu suara perutku.” Jawab Evanra lesu.
“Selapar apapun dirimu, kau tidak perlu aku memanjat dan mengambilkan buah untukmu kan?”
“Errr, berhentilah bicara buah-buahan, aku bosan. Aku mau daging atau semacamnya.” Evanra tampak kesal.
“Sudahlah, sekarang sudah larut malam. Kau tidak akan mungkin bisa menangkap seekor binatang pun dalam kondisi seperti ini. Lebih baik kau makan saja buahnya.”
“Rrrrrr,” tampaknya Evanra sudah tidak tahan. “Hah, selamat malam.” Evanra menutupkan selimut pada kantung tidurnya ke kepalanya.
“Ya sudah, selamat malam!” Eraldi juga bersiap untuk tidur.
Akhirnya mereka berdua tertidur. Eraldi bisa tidur dengan nyenyak sementara Evanra harus tidur dalam keadaan kelaparan. Ia bahkan bermimpi sedang mengejar daging yang dapat berlari. Tapi sayang, daging itu berlari terlalu cepat dan Evanra tak dapat mengejarnya. Ia pun kini harus pasrah dengan perutnya yang tiba-tiba berbunyi dengan keras. Tiba-tiba, matanya terbuka dan satu detik setelahnya, perutnya berbunyi lagi. Evanra bangun dan melihat sekitar, masih agak gelap. Sepertinya ia bangun pada saat fajar baru menyingsing. Sebenarnya, ia ingin tidur lagi jika bukan karena perutnya yang sudah sejak kemarin keroncongan. Keadaan mungkin masih gelap, tapi sudah ada cukup cahaya untuk perburuan kecil. Ia mengambil tombak dan peralatan berburunya. Ketika hendak berangkat, kebetulan ia menatap pohon berbuah di dekat tempatnya bermalam itu. “Heh, buah, membosankan.” Akhirnya ia berangkat.
Ternyata, Eraldi menyadari kepergian Evanra dan kini ikut bangun. “Dasar Evanra, masih gelap begini sudah berburu. Tapi aku juga agak lapar.” Eraldi bangun dan kemudian memanjat pohon berbuah di dekatnya dan sekalian memakan buahnya di atas pohon.
Untuk beberapa waktu Eraldi hanya duduk di atas pohon sambil mengunyah buah yang ia petik sampai matahari terbit. Saat itu, ia sudah merasa cukup kenyang dan hendak turun. Baru satu langkah dari tempatnya, ia mendengar teriakan. Teriakan itu terdengar seperti teriakan orang yang baru saja terjatuh dalam lubang. Teringat bahwa Evanra sudah pergi beberapa waktu lalu, Eraldi jadi khawatir. Dengan cepat ia turun dari pohon, merapikan kantung tidurnya, mengambil sebuah tombak dan pergi menuju sumber suara yang ia yakin berasal dari Evanra.
Memang benar Evanra terjatuh. Saat itu ia sedang mengejar seekor rusa dan ketika ia menginjak tanah di suatu tempat, ternyata itu bukan tanah tapi hanya dedaunan yang menutupi lubang di bawahnya. Dan tentu saja ia terjatuh. Untunglah bagian dalam lubang itu tidak terlalu keras. Evanra bisa langsung berdiri tanpa satu pun luka yang berarti. Dan tentu saja ia semakin menggerutu. Setelah membersihkan tanah yang menempel pada pakaiannya, ia lalu melihat ke atas dan mendapati bahwa ia memang tidak menginjak tanah saat itu, hanya daun-daunan. Evanra semakin pasrah ketika ia menyadari bahwa tanah di lubang itu terlalu lunak untuk ia panjat. Setiap kali ia mencoba naik, tanah yang ia pegang runtuh. Akhirnya ia duduk pasrah terhadap keadaannya, terjebak, dan dalam keadaan kelaparan. Kini ia menyesal tidak memakan buah-buahan seperti yang Eraldi lakukan. Jika saja ia makan, ia mungkin masih bisa bertahan sampai Eraldi menemukannya.
Dalam rasa lapar, Evanra menunggu. Baru beberapa detik, Evanra sudah merasa bosan. Dilihatnya tempat sekelilingnya, gelap. Ia terjatuh dalam lubang di hutan lebat yang rindang pada pagi hari, tak ada cukup penerangan di lubang itu. Tapi masih ada sedikit cahaya di sana, Evanra bisa melihat bongkahan tanah yang terjatuh ketika ia berusaha memanjat. Karena bosan, diambilnya bongkahan tanah itu dan dilemparnya ke depan. Saat akan melempar bongkahan yang lain, ia merasa ada yang aneh. Setahunya lubang tempat ia terjatuh hanya lubang kecil, tapi entah mengapa ia tak mendengar adanya suara benturan. Karena penasaran, ia melempar bongkahan tanah kedua ke arah yang sama. Dan memang benar, tidak ada suara benturan. Evanra menjadi sangat penasaran, ia pun berdiri dan melangkah ke arah itu. Setelah melangkahkan kakinya beberapa langkah, ia bisa meraba sesuatu. Tanah, tapi bentuknya tidak seperti dinding lurus. Akhirnya, ia menyadari bahwa dirinya baru saja menemukan terowongan. Akhirnya, sebuah senyum puas muncul di wajahnya. Kini ia menjadi lebih penasaran lagi. Jiwa petualang dan pemberani Evanra telah mendorong pemuda gagah itu masuk ke dalam terowongan itu, meskpiun tanpa penerangan apa pun.
Eraldi dengan sedikit berlari mencoba mencari Evanra. Dengan membawa tombak dan beberapa dedaunan obat, ia menuju tempat sumber suara teriakan yang tadi ia dengar. Saat ini, matahari sudah terbit dan ia bisa lebih mudah melacak jejak Evanra pada dedaunan yang ia lewati. Tidak lama kemudian, Eraldi menemukan lubang tempat Evanra terjatuh.
“Evanra? Kau disana? Hei, ini aku Eraldi, kau dengar?” Eraldi mendekati lubang itu dengan hati-hati. Karena tidak ada jawaban, ia berteriak, “Evanraaa!”
Di dalam terowongan, Evanra berjalan dengan tanah menempel pada dinding tanah di sebelah kirinya. Saat berjalan dan kegelapan dan kesunyian, ia merasa mendengar sesuatu. Tapi ia tidak yakin apa itu. Untuk lebih memastikan, ia berhenti dan beristirahat sejenak. Dan kemudian, ia mendengar suara teriakan yang sudah melemah.
“Evanra, kau dengar aku?” Itu suara Eraldi.
“Ya, aku dengar, aku di sini.” Evanra membalas teriakan Eraldi.
Ketika mendengar teriakan jawaban Evanra, Eraldi merasa bingung. Sejauh yang ia tahu, lubang di dekatnya itu tidak terlalu dalam dan besar. “Mengapa kau terdengar jauh sekali? Di mana kau sebenarnya?” Teriaknya.
“Aku di terowongan. Lubang itu memiliki terowongan, dan aku sedang di dalamnya. Mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang bagus.”
“Terowongan? Terowongan apa? Bagaimana mungkin ada terowongan di Mirindast? Seandainya ada, pasti sudah runtuh.” Balas Eraldi.
“Entahlah, yang jelas aku ada di terowongan. Oh ya, di sini gelap, bisa kau ambilkan obor?”
Eraldi tampak mengernyitkan dahi. “Aku tidak yakin dengan terowongan ini, sebaiknya kau keluar, kau bisa tersesat.”
“Tentu, aku akan keluar, tapi tidak melalui pintu masuk. Dan kau tidak perlu khawatir, aku berjalan lurus. Sudahlah, ambilkan saja aku obor, aku akan menunggu.”
Karena merasa tidak bisa memaksa Evanra keluar, Eraldi akhirnya kembali untuk menuruti permintaan Evanra. Tapi untuk berjaga-jaga, dibawanya ransel beserta seluruh isinya. Eraldi turun ke lubang itu dengan tali yang ia ikatkan pada batang pohon di dekatnya. Menyadari bahwa lubang itu cukup gelap, ia segera menyalakan obor. Ia bisa melihat tombak Evanra yang tergeletak di tanah, dan ia mengambilnya. Kemudian ketika ia menoleh, ia menemukan terowongan yang dimaksud. Perasaan ragu-ragu datang menghampirinya. Ia punya firasat yang tidak baik untuk terowongan ini. Seandainya bukan karena Evanra, ia tak akan pernah memasukinya.
Akhirnya Eraldi memaksa dirinya masuk. Sejauh ini yang dikatakan Evanra benar, terowongannya lurus. “Evanra, dimana kau? Aku sudah datang.” Teriak Eraldi.
Untuk sesaat, suasana hening.
“Kau tidak akan percaya ini, aku menemukan sebuah ruangan. Dan entah bagaimana tapi cukup terang disini. Lupakan saja tentang obornya. Aku tidak membutuhkannya.”
“Ruangan? Dan terang?” Kini Eraldi semakin bingung. Kira-kira ruangan apakah itu. Ia segera mempercepat langkahnya, meski sempat ragu ketika jalan mulai menurun, tapi ia yakin jika Evanra sudah melewatinya, jalan ini pasti baik-baik saja.
Rupanya jalan menurun itu lebih jauh dari yang ia perkirakan. Akhirnya, Eraldi berteriak lagi. “Hey, Evanra. Sebenarnya apa yang kau temukan?”
“Datang dan lihatlah sendiri.” Suara Eraldi terdengar cukup dekat.
Dan akhirnya setelah jalan menurun yang panjang, Eraldi sampai di jalan mendatar. Dan tidak jauh di depan, Eraldi melihat ada pancaran cahaya dari atas. “Itukah ruangan terang yang dibicarakan Evanra?” Gumam Eraldi dalam hati. Karena penasaran, Eraldi mempercepat langkahnya. Dan alangkah terkejutnya dirinya ketika ia sampai di ruangan itu.
Ruangan yang besar itu berbentuk kubah, dengan cahaya yang terpancar pada bagian aneh berbentuk lingkara cukup besar di tengah-tengah bagian kubah. Bagian itu tidak terbuat dari tanah sebagaimana dinding dan bagian yang lain, tapi lebih terlihat seperti air. Bagian itu terlihat seperti bagian berlubang yang diisi air dari atas. Entah bagaimana, tapi bagian itu seolah memiliki lapisan tipis yang tidak dapat ditembus air tapi ditembus cahaya. Cahaya inilah yang membuat ruangan besar ini terang, bahkan seperti yang dikatakan Evanra, obor sudah tidak diperlukan lagi di sini.
Pada bagian bawah ruangan itu, juga terdapat lubang. Ukuran lubang ini jauh lebih besar dari lubang masuk cahaya di langit-langit kubah. Lebar lubang ini hampir selebar ruangan dan memiliki dasar yang gelap gulita. Pada lubang ini, terdapat empat menara. Tiga menara berada di pinggir lubang dan membentuk segitiga dan ketiganya terhubung dengan menara keempat yang berada di pusat. Hanya menara keempat saja yang terhubung dengan lantai ruangan kubah ini, dengan jembatannya tepat di depan tempat Eraldi berdiri.
Eraldi bisa melihat bahwa Evanra sudah berada di menara-menara itu. Hal ini membuatnya memberanikan dirinya untuk ikut melihat-lihat keempat menara itu. Sambil berjalan, Eraldi mengagumi lubang cahaya ruangan itu, sementara Evanra terlihat sibuk dengan tiga tongkat emas dengan berlian berwarna merah, biru muda, dan putih di bagian ujungnya itu. Ia menemukan tongkat-tongkat itu di tiga menara yang di pinggir dan mengambilnya. Di bagian tengah menara keempat, ada semacam meja yang tingginya setinggi dada Evanra dengan gambar-gambar segitiga yang aneh dan tiga lubang. Evanra merasa tongkat-tongkat ini pasti muat ke dalam lubang itu jadi ia mencobanya. Meskipun tidak terjadi apa-apa, ia tidak tinggal diam. Ia berpikir mungkin ia memasukkan tongkat-tongkat itu ke lubang yang salah. Ia pun mencabut semua tongkatnya dan kemudian mulai meletakkannya dengan urutan berbeda. Sayangnya, sebelum ia selesai memasukkan tongkat ketiga, Eraldi melihatnya.
“Evanra jangan!” Teriak Eraldi.
Evanra menoleh, dan diam.
“Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau tidak menyentuh benda apa pun di sini.” Kata Eraldi sambil berjalan mendekat.
“Kenapa tidak?” Jawab Evanra polos.
“Heh, sekarang aku tanya tempat apa ini?”
“Entahlah.”
“Nah, kita tidak tahu tempat apa ini, jika kita menyentuh benda-benda di sini mungkin akan terjadi sesuatu yang mengerikan.”
“Mengerikan? Kenapa kau berpikir begitu?” Sepertinya Evanra masih belum mengerti.
“Aduh, ya sudahlah, sekarang kembalikan benda itu ke tempatnya semula.”
“Maksudmu di sini.”
“Ya dimana lagi, kau pikir di bawah sana, ha?” Kata Eraldi kesal sambil menunjuk jurang gelap di sampingnya.
“Ya baiklah.” Evanra memasukkan tongkat emas ketiga ke tempatnya.
“Nah, begitu. Sekarang jangan sentuh apa pun lagi!”
Untuk beberapa detik, suasana hening. Evanra masih berdiri di depan meja batu tempat ia meletakkan ketiga tongkat itu sementara Eraldi kini sudah sampai di menara tengah tempat Evanra berada. Eraldi mengamati Evanra yang masih terpaku, lalu tiba-tiba ketiga intan pada tongkat emas itu bercahaya.
“Wow.” Kata Evanra.
Cahaya itu kemudian menyebar. Beberapa gambar garis di menara itu juga mulai bercahaya dan membentuk simbol-simbol segitiga. Setelah itu garis cahaya itu merambat menuju ketiga menara yang lainnya. Evanra takjub dan gembira melihat hal aneh ini, sementara itu Eraldi justru semakin khawatir.
“Jangan katakan kalau tadi itu bukan tempatnya semula.” Katanya pada Evanra.
“Memang bukan.”
“Ya, ampun.” Eraldi menepuk dahinya.
Kini garis-garis cahaya sudah bersinar di semua menara, dan kini cahayanya makin terang. Evanra semakin kagum sementara Eraldi semakin khawatir. Eraldi dengan perlahan berjalan mundur ke pinggir. Sepertinya ia ingin segera melarikan diri dari tempat itu.
“Evanra, kurasa sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Ayo, cepat!”
Sambil terus mengagumi kejadian itu, Evanra menuruti permintaan Eraldi. Saat Evanra sudah dekat dengan Eraldi, Eraldi berlari. Tentu tidak sulit bagi Evanra untuk menyusul Eraldi di jembatan. Dan ketika ia sudah berhasil memegang pundak Eraldi, tempat itu berguncang. Guncangannya cukup dahsyat, tapi hanya dalam waktu satu detik. Mereka berdua terjatuh karena guncangan itu. Evanra masih terlihat tenang, sementara wajah Eraldi sudah mulai pucat.
“Aku punya firasat yang sangat buruk tentang hal ini.” Kata Eraldi.
“Hey, lihat. Sepertinya ada yang bercahaya di bawah sana.”
Eraldi mengikuti apa yang dikatakan Evanra, dan mereka berdua melihat adanya kabut besar yang bercahaya jingga dan biru muda yang berputar-putar mengelilingi menara di tengah dan merambat naik dari dalam jurang yang tadinya sangat gelap itu.
Tanpa berpikir panjang, Eraldi segera bangun. Tidak lupa ia juga mengangkat Evanra agar segera bangun juga dan kemudian berlari lagi. Tapi semuanya tidak seperti yang ia harapkan. Ketika ia melihat ke depan, berdiri di depannya tidak terlalu jauh, seorang pria yang terlihat tua berpakaian serba putih dengan rambutnya yang sudah putih melihat tajam ke arahnya. Eraldi semakin ketakutan ketika pria tua itu bukannya ikut berlari tapi justru mendekat ke arahnya. Eraldi pun mundur. Melihat Eraldi mundur, Evanra juga ikut mundur. Wajah pria tua itu sebenarnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Tapi tampaknya, ia terlihat marah. Pria tua itu terus berjalan mendekat, sampai akhirnya Eraldi dan Evanra sampai kembali di menara tengah. Baru di saat itu, Eraldi berani berbicara.
“Eh, maaf Pak, kalau anda tidak keberatan, kami ingin keluar dari tempat ini.”
“Ya, kami hanya eh, maksudku, aku hanya memindahkan tongkat ini saja, kalau kau tidak suka, aku bisa memindahkannya kembali untukmu.” Evanra menambahi.
Pria tua itu kemudian berhenti, tapi ia baru berbicara beberapa detik kemudian. Setelah ia berkedip.
“Jadi kalian ingin keluar? Aku bisa membantu kalian.” Kata pria tua itu.
Tepat setelah pria tua itu berbicara, kabut merah dan biru yang berputar tadi sudah mencapai puncak menara dan menghancurkan jembatan. Tapi kabut itu masih dalam kondisi berputar dan semakin ke atas menuju lubang cahaya yang berisi air. Entah bagaimana caranya, tapi kabut itu terlihat menembus air itu.
Dan kemudian, pria tua itu mengeluarkan tangannya yang tadinya tersembunyi oleh jubahnya. Ia kemudian menengadahkan tangannya dan sebagian kabut merah dan biru itu tertarik pada tangannya. Kabut merah tertarik menuju tangan kanannya, sedangkan kabut biru tertarik menuju tangan kirinya. Terus menerus, sampai kabut itu terkumpul dan membentuk sesuatu seperti bola.
“Eh, maaf Pak. Mungkin perlu kami beritahu kalau jembatannya sudah tiada, lalu bagaimana anda akan mengeluarkan kami?” Tanya Eraldi.
Beberapa saat kemudian, bola merah dan biru dari kabut itu sudah lebih besar dari ukuran kepala manusia. Tapi kabut-kabut masih ada yang tertarik ke tangan pria tua itu, dan sisanya naik menembus air melalui lubang cahaya di atas.
“Kalian akan keluar, dengan ini!” Pria tua itu lalu melemparkan kedua bola kabutnya ke arah Eraldi dan Evanra. Bola kabut itu berputar-putar sebelum akhirnya mengenai kedua bocah itu. Bola kabut merah mengenai Evanra, sedangkan yang biru mengenai Eraldi. Ketika kedua bola itu mengenai Eraldi dan Evanra, mereka langsung terdorong dengan hebat ke belakang sampai akhirnya mereka masuk ke dalam kabut-kabut yang berputar itu dan ikut terbawa naik ke atas. Saat itu, yang bisa mereka lihat hanya warna merah dan biru yang kemudian memudar dan menjadi hanya satu warna. Mereka juga merasakan tubuh mereka dirasuki oleh sesuatu. Dan setelah itu, mereka tidak merasakan apa-apa lagi.